| Illustration: rri.co.id |
Revolusi Kecil yang Terjadi di Buol
Bayangkan lo baru aja melahirkan. Lelah, tapi bahagia. Di kejauhan, suami lagi ngurus administrasi rumah sakit. Tiba-tiba, suster dateng bawa berkas. "Bu, ini untuk akta kelahiran bayinya. Tinggal tanda tangan." Lo tinggal tandatangan. Beres. Tanpa harus bolak-balik ke kantor kecamatan, tanpa harus antri panjang, tanpa harus ngurus surat pengantar RT/RW dulu. Kayak mimpi kan? Nah, di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, ini bukan mimpi. Ini kenyataan yang udah berjalan sekarang.
Programnya punya nama yang cukup unik: ILALANG DATARAN. Kepanjangannya? Ibu Melahirkan Langsung Dapat Akta Kelahiran. Praktis. Langsung to the point. Tidak ada basa-basi. Dan yang bikin makin menarik, program ini bukan sekadar wacana atau proyek piloting yang setengah jalan. Disdukcapil Buol udah kerjasama dengan seluruh fasilitas kesehatan di wilayah mereka. Dari puskesmas sampai rumah sakit. Semua masuk dalam jaringan ini.
Ini namanya jemput bola. Pemerintah yang mendekati masyarakat, bukan sebaliknya. Syahdan, Kepala Disdukcapil Buol, ngomong langsung ke media soal ini. Gaya dia cukup lugas. Masyarakat tinggal laporin peristiwa kelahiran di faskes tempat mereka melahirkan. Data nanti dikirim ke kantor Disdukcapil. Diproses. Beres. Akta kelahiran bisa diambil atau bahkan diantar langsung.
Mengapa Ini Soal Besar?
Lo mungkin mikir, "Ah, cuma akta kelahiran doang. Apa susahnya ngurus sendiri?" Nah, di situlah letak salah kaprahnya. Banyak orang kota yang tidak ngeh betapa ribetnya urusan administrasi di daerah terpencil. Buol punya 11 kecamatan. Itu bukan angka kecil. Ditambah 108 desa dan 7 kelurahan. Coba bayangkan. Satu desa bisa jaraknya puluhan kilometer dari kantor kecamatan. Akses jalan? Kadang mulus, kadang harus lewat tanah berbatu. Belum lagi kalau musim hujan. Lumpur di mana-mana.
Nah, sekarang bandingkan. Dulu, ibu yang baru melahirkan harus keluar rumah, meninggalkan bayi yang masih butuh ASI eksklusif, pergi ke kantor Disdukcapil untuk ngurus akta. Butuh waktu. Butuh tenaga. Butuh biaya transportasi. Sekarang? Tidak perlu lagi. Cukup satu langkah di tempat melahirkan. Semua beres. Efisiensi waktunya luar biasa.
Analogi gampangnya begini. Dulu lo harus pergi ke warung beli beras. Sekarang berasnya diantar ke rumah. Lebih irit tenaga, kan? Begitulah kira-kira logika program ini. Bedanya, yang diantar bukan beras, tapi kemudahan akses administrasi dasar yang selama ini jadi barang langka di daerah.
Syahdan juga ngasih konteks lain. Dia bilang ini bagian dari upaya pemerintah daerah. Tidak cuma sekadar proyek iseng. Ini strategi besar. Karena di Buol, masyarakatnya tersebar. Kalau pemerintah nggak aktif mendekati, jangankan akta kelahiran, KTP saja bisa ada yang nggak punya sampai bertahun-tahun.
Dokumen Kependudukan Itu Bukan Sekadar Kertas
Mari ngobrol soal dokumen kependudukan sebentar. Banyak orang meremehkan ini. Pikirnya cuma kertas doang. Tapi coba deh hidup tanpa KTP, tanpa KK, tanpa akta kelahiran. Lo mau daftar sekolah? Butuh akta. Mau daftar kerja? Butuh KTP. Mau ngurus BPJS? Butuh KK. Mau jual beli tanah? Butuh semua dokumen itu. Singkat kata, tanpa dokumen kependudukan, lo praktis tidak ada di mata negara.
Nah, Disdukcapil Buol nggak cuma fokus ke akta kelahiran doang. Mereka juga genjot layanan lain. KTP, KK, sampai akta kematian. Semua dioptimalkan. Syahdan bilang dokumen-dokumen ini sangat dibutuhkan masyarakat. Bukan cuma formalitas. Tapi kebutuhan nyata. Lo butuh tiap saat, di mana pun lo berada.
Ada cerita menarik dari program lain yang juga dijalankan: PELARI CEPAT. Ini juga program jemput bola. Kalau ILALANG DATARAN fokus ke ibu melahirkan, PELARI CEPAT lebih ke pendekatan umum. Petugas datang ke desa-desa, jemput data, proses di kantor, lalu kembali lagi dengan dokumen jadi. Namanya saja pelari cepat, memang harus cepat.
Gini, lo bayangkan satu desa di Buol yang jaraknya 40 kilometer dari ibukota kabupaten. Warga desa itu mau ngurus KTP. Kalau sistem lama, warga harus pergi sendiri. Naik motor atau angkutan desa. Butuh waktu setengah hari pergi, setengah hari pulang. Belum lagi kalau ada berkas yang kurang. Harus bolak-balik lagi. Dengan program jemput bola, petugas yang datang. Warga tinggal tunggu di balai desa. Sekali datang, sekali pulang, dokumen ikut terbawa.
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Buol?
Ini pertanyaan penting. Kenapa Buol bisa? Kenapa bukan kabupaten lain yang lebih kaya, lebih dekat dengan pusat pemerintahan? Jawabannya mungkin terletak di kesadaran. Kesadaran bahwa pelayanan publik itu bukan soal menunggu warga datang. Tapi soal bagaimana negara hadir di tengah masyarakat.
Syahdan dan jajarannya tampaknya paham betul kondisi wilayahnya. Mereka tahu masyarakat Buol tersebar di wilayah luas. Tahu akses jalan tidak selalu ideal. Tahu waktu masyarakat sama berharganya dengan waktu petugas. Dari situ lahir inovasi. Bukan inovasi yang canggih secara teknologi. Tapi inovasi yang sederhana, namun berdampak besar.
Lo lihat saja cara kerja ILALANG DATARAN. Tidak ada drone yang mengantar akta. Tidak ada aplikasi canggih yang harus di-download. Cuma kerjasama antar instansi. Disdukcapil bekerja sama dengan faskes. Faskes jadi titik penerima laporan. Disdukcapil jadi titik proses. Masyarakat jadi penerima manfaat. Sederhana tapi efektif.
Ini pelajaran buat daerah lain. Kadang kita terlalu sibuk mikirin solusi高科技. Padahal solusi yang dibutuhkan cuma kemauan untuk bergerak. Kemauan untuk keluar dari zona nyaman kantor ber-AC. Kemauan untuk memperlakukan masyarakat sebagai bos, bukan sebagai pemohon yang harus berserah diri.
Harapan Syahdan jelas. Dia ingin seluruh program ini dimanfaatkan maksimal. Makin cepat, makin mudah, makin efisien. Tapi harapan saja tidak cukup. Butuh sosialisasi yang gencar. Butuh edukasi ke masyarakat bahwa program ini ada. Karena percuma kan punya program bagus kalau tidak ada yang tahu?
Di sini peran media, tokoh masyarakat, sampai kader desa jadi krusial. Mereka yang harus sebarkan informasi. Sampai ke pelosok. Sampai ke rumah-rumah warga. Bahwa sekarang, ngurus akta kelahiran tidak perlu repot. Cukup melahirkan di faskes, lapor, dan tunggu. Selebihnya diurus sama sistem.
Akhirnya, yang membuat program seperti ini sukses bukan cuma desainnya. Tapi eksekusinya. Kertas kerja yang rapi tidak ada artinya kalau di lapangan mandek. Di Buol, setidaknya ada tanda-tanda bahwa eksekusi berjalan. Kerjasama dengan faskes sudah terbangun. Program sudah dijalankan. Tinggal konsistensi dan perluasan jangkauan.
Satu hal pasti. Bayi yang lahir di Buol hari ini punya kesempatan lebih besar untuk langsung tercatat sebagai warga negara. Punya akta kelahiran sejak hari pertama kehidupan. Bukan hal besar bagi sebagian orang. Tapi bagi mereka yang pernah kesulitan mengurus dokumen, ini artinya segalanya.