![]() |
| Ilustrasi: www.ibudanbalita.com |
Tantrum atau temper tantrum adalah ledakan emosi. Hal ini biasanya terjadi anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional. Tantrum biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak dan menjerit-jerit. Serta pembangkangan, mengomel marah, dan resistensi terhadap upaya untuk menenangkan. Bahkan dalam beberapa kasus terjadi kekerasan. Namun perlu diketahui ini merupakan hal yang wajar terjadi pada anak-anak, terutama saat usia satu hingga lima tahun.
Penyebab tantrum biasanya terjadi karena sang anak merasa frustasi, lelah, stres atau lapar. Temper tantrum juga bisa terjadi karena anak ingin mencari perhatian, mendapatkan atau menghindari sesuatu.
![]() |
| Ilustrasi: timesindonesia.co.id |
Berikut 5 tips mengatasi anak tantrum yang dilansir oleh Kompas.com.
Perhatikan apa yang membuat anak tantrum. Bisa jadi, anak tantrum karena lapar, lelah, atau merasa tidak enak badan. Dengan memahami penyebabnya, orangtua akan mampu melakukan antisipasi dan meminimalisir fase tantrum sang anak. Mengenali situasi pemicu juga akan memungkinkan orangtua mengarahkan sang anak untuk menyalurkan emosinya dengan baik. Untuk itu, orangtua perlu berdiskusi dengan sang anak dan membiarkan sang anak mengatakan apa yang dirasakan dan diinginkannya.
Mencoba menghentikan ledakan emosi sang anak saat tantrum hanya akan membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang tak mampu mengekspresikan perasaanya. Itu sebabnya, biarkan anak melepaskan emosinya. Mencoba mengatasi pemicunya saat anak sedang tantrum hanya akan memperparah keadaan. Sebaiknya, bicarakan dengan sang anak saat emosinya mulai mereda.

