Inspirasi dari Kisah Pria Tua Asal Maroko yang Membaca Lebih dari 4000 Buku - xwijaya

Tidak menemukan artikel? cari disini



Inspirasi dari Kisah Pria Tua Asal Maroko yang Membaca Lebih dari 4000 Buku

Inspirasi dari Kisah Pria Tua Asal Maroko yang Membaca Lebih dari 4000 Buku
Illustration: beautynesia.id

Kisah Pria Tua Asal Maroko yang Membaca Lebih dari 4000 Buku


Ada begitu banyak gambar di internet yang menunjukkan seorang pria tua yang duduk di pintu masuk toko buku sambil membaca buku. Ya, pria tersebut bernama Mohamed Aziz, seorang penjual buku tertua di kota tua Rabat, Maroko. Aziz menghabiskan enam hingga delapan jam sehari untuk membaca buku. Dan ia telah membaca lebih dari 4000 buku dalam berbagai bahasa, antara lain Arab, Prancis, Spanyol, dan Inggris. Siapa sangka, di balik kecintaannya pada buku, ternyata hal ini dilatarbelakangi oleh kegagalannya dalam menyelesaikan pendidikan di masa lalu, lantaran mahalnya buku-buku pelajaran saat itu. Karena itu, Aziz bertekad untuk membalaskan dendam atas kemiskinannya dengan membuka sebuah toko buku di Rabat. Penasaran bagaimana kisah selengkapnya tentang Mohamed Aziz? Yuk langsung simak di bawah ini!

Kisah Mohamed Aziz dan Pembalasan Dendam Atas Masa Lalunya


Dilansir dari Morroco World News, Mohamed Aziz telah menjadi yatim piatu pada usia enam tahun. Karena itu, ia berusaha mencari nafkah dengan memancing demi mewujudkan mimpinya untuk lulus SMA. Namun pada usia 15 tahun, Aziz menyadari kenyataan bahwa ia tidak akan mampu menyelesaikan pendidikannya lantaran buku pelajaran yang terlalu mahal. Marah dan tanpa ijazah, karir Aziz selama lebih dari setengah abad sebagai penjual buku pun dimulai. "Inilah cara saya membalas dendam pada masa kecil saya, situasi saya, kemiskinan saya," kata Aziz.

Berjualan Buku


Dikutip dari The Vale Magazine, pada tahun 1963 Aziz memutuskan untuk mulai menjual buku. Toko pertamanya didirikan di bawah pohon, terdiri dari permadani dan hanya sembilan buku. Empat tahun kemudian, dia berhasil membuka toko fisik di jantung kota Rabat. Pelanggan dapat menemukan semua jenis bahan bacaan di toko berukuran lima kali lima kaki tersebut, mulai dari majalah tabloid hingga buku teks kedokteran. Aziz bekerja 12 jam sehari. Dia mulai dengan berjalan-jalan di sekitar lingkungan Rabat untuk mencari penjual buku. Banyak diantaranya berada dalam situasi serupa dengan apa yang dia alami di awal kariernya, dan menemukan buku baru untuk ditambahkan ke koleksinya. Ketika ditanya berapa banyak buku yang telah dia kumpulkan sejauh ini, jawaban sederhananya adalah, "Tidak cukup." Aziz biasanya bertengger di kusen pintunya untuk mulai membaca. Hanya berhenti saat makan, salat, merokok, dan membantu pelanggan. Rata-rata Aziz menghasilkan satu atau dua penjualan dalam sehari.

Kecintaannya pada Buku dan Perjuangannya untuk Literasi


Selama 55 tahun Aziz melakukan ritual harian ini, tingkat buta huruf di Maroko telah menurun dari 87% pada tahun 1960 menjadi 32% pada tahun 2014, menurut Komisi Tinggi Perencanaan (HCP), badan statistik yang dikelola negara. Namun, sekitar tiga dari sepuluh orang Maroko masih belum bisa menikmati buku-bukunya. Hal yang paling ingin Aziz bagikan adalah Al-Qur'an merahnya, yang dia pelajari sebelum setiap azan. Membaca kata-kata suci dari halaman kuning Al-Quran miliknya telah memperkuat iman Aziz. Dengan membuka tokonya dan memberikan kesempatan kesempatan kepada masyarakat untuk membaca, Aziz berharap dapat memperkuat iman mereka. "Saya akan berada disini sampai semua orang bisa membaca. Saya telah membaca lebih dari 4000 buku, jadi saya telah menjalani lebih dari 4000 kehidupan. Setiap orang harus memiliki kesempatan itu," kata Aziz. Ada dua hal yang membuat pria berusia lebih dari 70 tahun itu marah, yaitu buku-buku yang halamannya hilang dan anak-anak yang bekerja daripada belajar. Lima kali sehari Aziz menutup Al-Qur'an merahnya untuk berjalan ke masjid terdekat dan berdoa. Setiap hari, dia berpapasan dengan anak laki-laki yang bekerja di toko atau bermain di gang-gang daripada bersekolah. Dan setiap hari, itulah hal pertama yang dia doakan. "Membaca adalah anugerah dari Tuhan dan sebuah perintah," kata Aziz dengan merujuk langsung pada Al-Qur'an surat Al-'Alaq, ayat 1-5. Sementara itu menurut USAID, hanya 53% siswa yang terdaftar di sekolah menengah pertama yang melanjutkan ke sekolah menengah atas. "Masalah ini bukanlah hal baru. Itu terjadi pada saya 50 tahun yang lalu, dan itu terjadi sekarang," kata Aziz. Disamping itu, meskipun mahalnya harga buku pelajaran, Aziz menurunkan harga buku untuk calon siswa, dengan harapan harga buku yang mahal tidak lagi menjadi alasan siswa tidak bisa bersekolah. Di akhir Aziz berkata, "Hidup saya berkisar pada membaca. Dalam hidup, saya paling peduli dengan kemampuan saya membaca dan bahwa saya bisa membaca sampai akhir."


Tidak ada komentar