56 Tahun Menjaga Janji Suci: Duka Mendalam Mansyur S Kehilangan Istri Tercinta Akibat Gula Darah Drop
![]() |
| Illustration: cumicumi.com |
Ketika Nada Duka Menyelimuti Kediaman Sang Raja Dangdut
Dunia musik dangdut Indonesia diselimuti awan kelabu. Kabar duka yang menyayat hati datang dari salah satu ikon legendarisnya, Mansyur S, yang baru saja kehilangan belahan jiwanya. Rosidah, istri tercinta yang telah menemani perjalanan hidup dan kariernya selama lebih dari setengah abad, dipanggil menghadap Sang Pencipta pada Senin, 5 Januari 2026, di usia 75 tahun. Kepergian Rosidah bukan hanya meninggalkan ruang kosong di hati Mansyur S, tetapi juga menjadi pengingat pahit tentang kerapuhan hidup dan perjuangan panjang melawan penyakit kronis. Bagi Mansyur S, sosok yang dikenal khalayak dengan lagu-lagu sendu yang mendalam, kehilangan ini adalah duka terberat yang pernah ia pikul. Lima puluh enam tahun bukan waktu yang singkat; itu adalah sebuah periode yang mencakup hampir seluruh babak kehidupan dewasanya, mulai dari meniti karier sebagai penyanyi di panggung-panggung kecil hingga menjadi maestro dangdut yang dihormati.
Kehadiran Rosidah di sisi Mansyur S selama ini ibarat jangkar yang menahan badai ketenaran, memberikan stabilitas di tengah gemerlapnya panggung hiburan yang seringkali penuh gejolak. Kini, jangkar itu telah terlepas. Ditemui di rumah duka yang terletak di kawasan Jakarta Pusat, Mansyur S, yang kini berusia 77 tahun, menunjukkan ketegaran seorang suami yang ikhlas melepas, meskipun sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa kehilangan yang tak terperi. Ia berusaha tegar menerima takdir, namun kenangan akan 56 tahun kebersamaan yang terukir manis dan pahit di setiap langkah hidup mereka, kini menjadi beban rindu yang begitu berat.
Pertarungan Panjang Melawan Diabetes: Kisah Gula Darah 46 yang Mengakhiri Perjalanan
Kematian Rosidah menjadi pengingat keras bagi masyarakat akan bahaya laten penyakit metabolik yang sering diderita oleh lansia: diabetes melitus. Mansyur S mengungkapkan bahwa sebelum menghembuskan napas terakhir, istrinya telah berjuang melawan penyakit gula yang sudah lama bersarang di tubuhnya. Diabetes, yang seringkali dijuluki "ibu dari segala penyakit," memang memerlukan pengelolaan seumur hidup yang disiplin. Pada kasus Rosidah, kondisinya memburuk hingga ia harus menjalani perawatan intensif selama dua minggu di rumah sakit. Periode ini adalah waktu krusial di mana keluarga berjuang keras untuk menstabilkan kondisi kesehatan Rosidah yang semakin menurun akibat komplikasi penyakit tersebut.
Puncak dari krisis kesehatan itu terjadi ketika gula darah Rosidah anjlok secara drastis, mencapai angka 46. Angka ini jauh di bawah batas normal (sekitar 70-100 mg/dL), sebuah kondisi medis yang dikenal sebagai hipoglikemia akut. Hipoglikemia ekstrem pada lansia sangat berbahaya, karena otak tidak mendapatkan energi yang cukup, yang bisa menyebabkan kejang, koma, dan pada akhirnya, kegagalan organ. Mansyur S menjelaskan bahwa meskipun diabetes sudah menjadi bagian dari hidup Rosidah, ternyata ada momen di mana kondisinya tidak terkontrol dengan baik, meskipun upaya pengawasan medis selalu dilakukan. Kondisi ‘drop gula’ ini lah yang menjadi titik balik kritis yang sayangnya tidak mampu dilewati oleh tubuh Rosidah. Perjuangan dua minggu di rumah sakit menunjukkan betapa gigihnya pertempuran Rosidah melawan penyakitnya, dan betapa sabarnya Mansyur S mendampingi hari-hari sulit tersebut.
56 Tahun Kesetiaan: Kenangan yang Tak Terlupakan di Sisi Panggung Kehidupan
Jarang sekali kita menemukan pasangan yang mampu mempertahankan janji suci pernikahan selama lebih dari lima dekade, apalagi di tengah hiruk pikuk dunia hiburan yang serba cepat dan penuh godaan. Mansyur S dan Rosidah adalah contoh nyata dari komitmen abadi. Selama 56 tahun mendampingi Sang Raja Dangdut, Rosidah mungkin jarang terekspos kamera, namun perannya sebagai tiang penyangga dalam rumah tangga Mansyur S tak terbantahkan. Ia adalah pendengar setia, kritikus jujur, dan manajer emosional yang memastikan Mansyur S tetap fokus pada karya-karyanya.
Rasa kehilangan yang diungkapkan Mansyur S bukan sekadar basa-basi publik, melainkan pengakuan jujur akan hilangnya separuh jiwa. Ia mengingat setiap momen yang telah dilalui, baik suka maupun duka. Mulai dari masa-masa awal karier yang mungkin penuh keterbatasan, hingga menikmati kejayaan di puncak popularitas. Setiap lirik lagu, setiap panggung yang ia tapaki, memiliki jejak dukungan dan doa dari Rosidah. "Banyak sekali kenangan yang tidak pernah terlupakan," ujarnya penuh haru. Pernikahan mereka menjadi warisan tak tertulis tentang arti kesetiaan dan pengorbanan, sebuah kisah cinta yang jauh lebih indah dan langgeng dibandingkan dengan cerita fiktif yang ia nyanyikan di atas panggung. Kepergian Rosidah menandai akhir dari sebuah babak monumental dalam sejarah hidup Mansyur S, sebuah babak yang penuh dengan cinta, pengorbanan, dan kesetiaan yang tak pernah lekang oleh waktu.
Penerimaan Spiritual di Tengah Kepedihan: Mengurai Makna Kullu Nafsin Dza'iqatul Maut
Di tengah gelombang kesedihan yang menerpa, Mansyur S menunjukkan kematangan spiritual yang luar biasa. Meski duka itu nyata dan mendalam, ia mampu menguatkan diri dengan pegangan keimanan. Dalam pernyataannya, Mansyur S mengutip sebuah ayat suci yang sangat fundamental dalam Islam: "Kullu nafsin dza'iqatul maut," yang artinya, "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati." Kutipan ini bukan hanya sekadar penghiburan, melainkan sebuah pengakuan tulus bahwa kematian adalah keniscayaan, sebuah janji yang pasti dipenuhi oleh setiap makhluk.
Penerimaan ini menjadi kunci bagi Mansyur S untuk tetap tegar di depan publik dan keluarganya. Ia menyadari bahwa perpisahan ini adalah takdir Ilahi, dan bahwa Rosidah telah menyelesaikan tugasnya di dunia. Ketegaran Mansyur S, seorang seniman yang karyanya seringkali mengekspresikan kesedihan dan patah hati secara mendalam, mengajarkan kita bahwa bahkan di titik terendah duka, iman dapat menjadi penopang terkuat. Upaya untuk menahan air mata dan berbicara tentang takdir di rumah duka menunjukkan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga yang harus memberikan contoh ketabahan kepada anak cucu, sekaligus menghormati almarhumah. Ketegaran ini bukanlah berarti ia tidak sedih, melainkan sebuah bentuk keikhlasan untuk mengembalikan yang dicintai kepada pemiliknya yang hakiki, setelah 56 tahun dipinjamkan untuk menemaninya.
Warisan Cinta di Balik Nada-Nada Emas Sang Maestro
Kepergian Rosidah tentu akan memberikan dampak signifikan, baik secara personal maupun profesional bagi Mansyur S. Rasa kehilangan yang ia rasakan kemungkinan besar akan mewarnai karya-karya dan penampilannya di masa mendatang. Bagi para penggemarnya, yang terbiasa mendengarkan lagu-lagu Mansyur S yang sarat makna dan emosi, kisah nyata di balik panggung ini memberikan dimensi baru pada setiap nada yang ia lantunkan. Lagu-lagu tentang perpisahan, penyesalan, dan rindu kini akan terasa semakin otentik, karena dibawakan oleh seseorang yang baru saja merasakan kehilangan paling mendalam dalam hidupnya.
Namun, warisan yang paling utama bukanlah duka, melainkan kenangan akan cinta yang telah dibangun selama lebih dari setengah abad. Rosidah meninggalkan warisan berupa anak-anak dan cucu yang akan melanjutkan garis keturunan mereka, serta menjadi saksi bisu betapa kuatnya ikatan cinta yang dipegang oleh kedua orang tua mereka. Meskipun raga Rosidah telah tiada, semangat kesetiaan, ketulusan, dan kekuatan dalam menghadapi penyakit yang ia tunjukkan akan terus menjadi inspirasi. Saat Mansyur S kelak kembali naik ke atas panggung, ia tidak hanya membawa warisan musik dangdut yang legendaris, tetapi juga warisan cinta yang abadi, yang akan ia bawa hingga akhir hayatnya, sebagai penghormatan terakhir kepada istri setia yang mendampinginya selama 56 tahun. Selamat jalan, Rosidah.


Tidak ada komentar
Posting Komentar