Analisis Mendalam Imbang 1-1 Leicester vs West Brom: Pertarungan Mid-Table Championship yang Penuh Tekanan
![]() |
| Illustration: bbc.com |
Mengupas Tuntas Hasil Imbang Penuh Ketegangan di King Power Stadium
Kompetisi EFL Championship seringkali disebut sebagai liga paling sulit dan tidak terduga di dunia sepak bola, dan hasil pertandingan antara Leicester City melawan West Bromwich Albion pada 5 Januari lalu adalah bukti nyata dari label tersebut. Pertemuan yang berakhir dengan skor 1-1 ini bukan hanya sekadar pembagian satu poin; ini adalah cerminan dari tekanan luar biasa yang dialami tim-tim penghuni papan tengah yang sedang berjuang menemukan konsistensi di tengah musim. Leicester City, yang kini berada di posisi ke-13, berhadapan dengan West Bromwich Albion yang menempati posisi ke-17. Secara statistik, kedua tim ini sedang berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan, dengan rentetan hasil yang naik turun bagaikan roller coaster emosi. Bagi kedua klub yang memiliki sejarah bermain di kasta tertinggi Premier League, keberadaan mereka di tengah tabel, dengan selisih poin yang tipis dari zona degradasi sekaligus jarak yang lumayan jauh dari slot promosi, menciptakan atmosfer pertandingan yang kental akan kehati-hatian. Hasil imbang ini terasa pahit sekaligus manis—pahit karena gagal meraih kemenangan yang sangat dibutuhkan, namun manis karena berhasil mencegah kekalahan, terutama mengingat betapa mudahnya satu atau dua kekalahan berturut-turut bisa menjerumuskan tim ke zona bahaya degradasi yang sudah menanti di bawah.
Bedah Statistik: Mengapa Skor 1-1 Mencerminkan Keseimbangan yang Mengejutkan?
Melihat skor akhir 1-1 seringkali menyesatkan jika tidak dibarengi dengan analisis statistik yang mendalam, dan data dari pertandingan ini menunjukkan narasi yang jauh lebih kompleks. Secara keseluruhan, penguasaan bola terbagi hampir merata (Leicester 48.6% berbanding West Brom 51.4%), mengindikasikan bahwa tidak ada tim yang benar-benar mendominasi kendali permainan di lini tengah. Namun, ketika kita menggali ke metrik ofensif, pola menarik mulai terlihat. West Bromwich Albion menunjukkan ancaman serangan yang lebih substansial, tercermin dari nilai Expected Goals (xG) mereka sebesar 0.396, jauh lebih tinggi dibandingkan Leicester yang hanya mencatatkan xG 0.2629. Angka ini menegaskan bahwa peluang-peluang yang diciptakan West Brom memiliki kualitas yang lebih baik, atau setidaknya lebih potensial untuk berbuah gol. Selain itu, perbedaan paling mencolok terlihat pada jumlah total sentuhan di dalam kotak penalti lawan: West Brom mencatatkan 20 sentuhan, sementara Leicester hanya 9 sentuhan. Angka ini adalah indikator kunci agresi serangan; West Brom lebih efektif dalam menembus pertahanan lawan dan menciptakan kekacauan di area berbahaya, meskipun mereka gagal memaksimalkannya menjadi lebih dari satu gol.
Di sisi lain, minimnya xG Leicester, ditambah hanya empat tembakan total (satu tepat sasaran), menunjukkan bahwa The Foxes kesulitan menembus pertahanan The Baggies yang sangat terorganisir, atau Martà Cifuentes (Manajer Leicester) memilih pendekatan yang lebih pragmatis. Meskipun akurasi umpan Leicester lebih unggul (84.9% vs 80.2%), perbedaan efektivitas dalam duel udara (WBA memenangkan 12 duel udara, LEI hanya 5) menunjukkan bahwa West Brom memiliki keunggulan fisik yang mereka manfaatkan, terutama dalam situasi bola mati dan serangan balik cepat. Secara keseluruhan, hasil imbang ini bisa dibilang sedikit beruntung bagi Leicester, mengingat West Brom tampil lebih mengancam berdasarkan kualitas peluang yang mereka ciptakan. Kedua tim sama-sama melakukan 4 pelanggaran, yang menandakan pertandingan berlangsung relatif bersih namun tetap kompetitif dan penuh taktik.
Dampak Klasemen: Perlunya Konsistensi di Tengah Ancaman Degradasi
Dengan satu poin yang berhasil diamankan dari King Power, Leicester City tetap tertahan di posisi ke-13 dengan 35 poin, sementara West Bromwich Albion berada empat peringkat di bawah mereka, di posisi ke-17, mengumpulkan 32 poin. Meskipun posisi ini terlihat nyaman di pertengahan tabel, bahaya sebenarnya terletak pada ketatnya selisih poin di Championship. Jarak Leicester dengan zona promosi play-off (posisi 6) yang ditempati Watford (41 poin) masih bisa dikejar, namun hal itu memerlukan serangkaian kemenangan beruntun, sesuatu yang belum mampu mereka tunjukkan. Lebih penting lagi, selisih poin dengan zona degradasi sangat tipis. Norwich City di posisi ke-22 hanya terpaut 11 poin dari Leicester. Dalam liga di mana satu kemenangan dapat melompatkan tim hingga empat posisi, dan satu kekalahan dapat menarik mereka ke bawah, inkonsistensi adalah musuh utama.
West Brom, dengan 32 poin, memiliki tantangan yang lebih besar. Mereka hanya berjarak beberapa poin saja dari Sheffield United (32 poin, posisi 16) dan Swansea City (32 poin, posisi 18), yang menunjukkan betapa gentingnya situasi mereka. Analisis performa terakhir menunjukkan bahwa kedua tim sama-sama kesulitan membangun momentum. Dalam enam pertandingan terakhir, Leicester (D W L L W L) dan West Brom (L W L L W L) memiliki pola hasil yang identik; hanya dua kemenangan dalam enam laga terakhir. Keterpurukan ini semakin diperburuk oleh fakta bahwa tim-tim di bawah mereka, seperti Norwich dan Charlton, mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Untuk keluar dari tekanan ini, manajer Martà Cifuentes dan Ryan Mason harus segera menemukan formula kemenangan berantai. Musim ini bukan hanya tentang meraih poin, tetapi juga tentang mengelola mentalitas tim agar tidak tergelincir mendekati zona merah, yang ironisnya dihuni oleh tim seperti Sheffield Wednesday yang sudah dikenai pengurangan poin.
Analisis Taktik 4-2-3-1: Duel Lini Tengah Martà Cifuentes dan Ryan Mason
Menariknya, kedua manajer—Martà Cifuentes dari Leicester dan Ryan Mason dari West Brom—memilih formasi yang identik, yaitu 4-2-3-1. Formasi ini umumnya digunakan untuk memberikan stabilitas defensif melalui dua gelandang bertahan (James dan Skipp di Leicester; Mowatt dan Molumby di WBA) sambil memaksimalkan daya gedor melalui trio gelandang serang di belakang striker tunggal. Namun, penerapan taktik di lapangan menunjukkan perbedaan signifikan. Di kubu Leicester, Cifuentes mengandalkan kecepatan Ayew di depan, didukung oleh Fatawu dan De Cordova-Reid. Kehadiran Ricardo Pereira sebagai kapten dan bek, bersama Nelson dan Okoli di jantung pertahanan, tampaknya fokus pada stabilitas lini belakang, yang terlihat dari minimnya xG yang diterima (walaupun WBA memiliki 20 sentuhan di kotak penalti, pertahanan Leicester mampu meminimalisir peluang berkualitas tinggi).
Sebaliknya, Ryan Mason memanfaatkan format 4-2-3-1 untuk memproduksi agresi yang lebih besar. Meskipun mereka unggul dalam statistik serangan kualitatif (xG dan sentuhan di kotak penalti), West Brom tampak kurang klinis di depan gawang. Trio Johnston, Grant, dan Price di lini serang WBA gagal sepenuhnya mengeksploitasi dominasi teritorial mereka. Duel di lini tengah, khususnya antara Skipp/James melawan Mowatt/Molumby, menjadi kunci mengapa skor tetap rendah. Kedua set gelandang bertahan ini bekerja keras, seperti yang dibuktikan oleh total 15 tekel yang dilakukan West Brom (dengan tingkat keberhasilan 86.7%) berbanding 3 tekel sukses dari Leicester (100% sukses). Angka tekel yang tinggi ini dari West Brom menunjukkan tekanan konstan yang mereka berikan di lini tengah, memaksa Leicester untuk sering melakukan umpan panjang atau kehilangan bola. Hasilnya adalah pertandingan yang ketat, di mana pertahanan yang terorganisir (ditandai dengan 23 total sapuan bola oleh Leicester) berhasil menahan upaya serangan lawan yang lebih eksplosif.
Kunci Menuju Paruh Kedua Musim: Mengakhiri Inkonsistensi
Pertandingan melawan West Brom sekali lagi menyoroti masalah kronis yang dihadapi Leicester dan WBA: inkonsistensi yang menghambat kemajuan mereka menuju persaingan promosi. Bagi Leicester, meskipun mereka memiliki rekor impresif tak terkalahkan dalam delapan pertandingan terakhir melawan West Brom di liga (6 kemenangan, 2 imbang) sejak tahun 2016, performa tandang mereka belum meyakinkan. Kebutuhan mendesak saat ini adalah konversi peluang. Dengan xG yang rendah, Leicester harus lebih berani mengambil risiko dan meningkatkan jumlah tembakan berkualitas. Pergantian pemain seperti masuknya Patson Daka atau Stephy Mavididi (yang merupakan pemain pengganti di laga ini) harus mampu memberikan dampak instan pada agresi tim.
Di sisi West Brom, Ryan Mason harus mencari cara untuk mengubah dominasi teritorial dan superioritas statistik seperti sentuhan di kotak penalti dan xG menjadi gol nyata. Mereka jelas mampu menciptakan situasi berbahaya, tetapi penyelesaian akhir menjadi tanda tanya besar. West Brom, yang sempat meraih kemenangan 2-1 melawan QPR di hari Senin sebelumnya, harus belajar mempertahankan momentum kemenangan beruntun—sesuatu yang terakhir mereka lakukan pada musim 2022-2023. Jika kedua tim gagal mengatasi inkonsistensi mereka dalam beberapa bulan ke depan, mereka berisiko menghabiskan sisa musim terperangkap di zona ‘tidak aman’, di mana mereka terlalu jauh untuk promosi dan terlalu dekat dengan jurang degradasi yang menakutkan. Pertarungan di Championship masih panjang, dan setiap poin yang hilang di King Power kini akan terasa sangat berharga saat musim mendekati puncaknya.


Tidak ada komentar
Posting Komentar