Kutukan Dall’Ara: Mengapa Atalanta Selalu Menangis di Kandang Bologna? Analisis 3 Laga Terakhir yang Penuh Drama
![]() |
| Illustration: idntimes.com |
Menuju Pekan Krusial: Stakes Tinggi dalam Duel Klasik Emilia-Romagna
Serie A musim 2025/2026 memasuki pekan krusial, dan perhatian kini tertuju pada duel panas di Stadio Renato Dall’Ara, tempat Bologna menjamu tim kuat asal Bergamo, Atalanta. Pertandingan ini bukan sekadar perebutan tiga poin biasa; ia adalah pertarungan langsung yang sangat menentukan dalam perburuan tiket kompetisi Eropa, khususnya zona Liga Champions. Posisi kedua tim yang sering kali berdekatan di papan atas klasemen membuat setiap pertemuan mereka selalu menyajikan tensi tinggi dan drama yang tak terduga. Bagi Atalanta, yang tengah berupaya keras mengamankan posisi teratas, kemenangan tandang menjadi harga mati. Namun, sejarah dan rekam jejak menunjukkan bahwa Dall’Ara bukanlah tempat yang ramah bagi La Dea. Dalam tiga kunjungan terakhir mereka ke markas Bologna, Atalanta kerap terantuk, menunjukkan pola kesulitan yang sulit dipatahkan. Memahami dinamika ini penting untuk memprediksi hasil laga mendatang, karena Bologna, yang kini bukan lagi tim medioker, selalu mampu menampilkan permainan solid dan penuh perlawanan di hadapan publik mereka sendiri. Analisis mendalam atas tiga lawatan terakhir ini mengungkap betapa beratnya perjuangan Atalanta setiap kali mereka menjejakkan kaki di kota markas Rossoblu tersebut.
Kilas Balik Paling Manis: Kemenangan Comeback Dramatis di Musim 2022/2023
Satu-satunya titik terang dalam rekam jejak tiga kunjungan terakhir Atalanta ke Bologna terjadi pada pekan ke-17 Serie A musim 2022/2023. Laga yang berlangsung di Stadio Renato Dall’Ara ini menjadi saksi bisu kebangkitan mentalitas anak asuh Gian Piero Gasperini. Pertandingan dimulai dengan skenario terburuk bagi tim tamu. Ketika peluit dibunyikan, tekanan suporter Bologna langsung membuahkan hasil. Baru berjalan enam menit, Riccardo Orsolini berhasil membungkam para pendukung Atalanta dengan gol cepatnya. Keunggulan 1-0 ini bertahan hingga jeda, memaksa Gasperini melakukan penyesuaian strategi besar-besaran di ruang ganti. Yang menarik, respon Atalanta pasca-turun minum benar-benar instan dan destruktif. Hanya dua menit babak kedua berjalan, gelandang pekerja keras Teun Koopmeiners melepaskan tembakan yang mengubah kedudukan menjadi 1-1, menyuntikkan energi baru ke dalam skuad La Dea. Momentum segera beralih sepenuhnya ke pihak tamu. Pada menit ke-58, penyerang muda Denmark yang saat itu tengah naik daun, Rasmus Hojlund, menunjukkan insting predatornya dengan mencetak gol penentu kemenangan. Skor 2-1 ini bertahan hingga akhir laga. Kemenangan ini sangat berharga, bukan hanya karena menghasilkan tiga poin, tetapi juga karena menegaskan kemampuan Atalanta untuk bangkit dari posisi tertinggal di kandang lawan yang sulit. Itu adalah malam yang sempurna, yang sayangnya, tidak terulang di musim-musim berikutnya.
Titik Balik Kekalahan: Ketika Lewis Ferguson Menjadi Mimpi Buruk La Dea (2023/2024)
Musim berikutnya, Atalanta kembali menyambangi Dall’Ara, kali ini pada pekan ke-17 Serie A 2023/2024, dan hasil yang dibawa pulang sangatlah kontras. Jika tahun sebelumnya mereka berhasil membalikkan keadaan, kunjungan kali ini berakhir pahit dengan kekalahan tipis 0-1. Pertandingan ini secara taktik jauh lebih ketat dan defensif. Kedua tim menunjukkan soliditas lini belakang yang luar biasa, membuat peluang bersih menjadi barang langka di sepanjang babak pertama. Atalanta, meskipun berupaya melancarkan serangan dan mencoba mendominasi lini tengah, selalu terbentur tembok pertahanan Bologna yang disiplin. Paruh pertama pun berakhir tanpa gol, menggambarkan betapa seimbangnya kekuatan kedua tim dalam duel taktis tersebut. Namun, nasib buruk menghampiri Atalanta menjelang peluit panjang. Ketika pertandingan tampaknya akan berakhir imbang tanpa gol, gelandang Bologna, Lewis Ferguson, muncul sebagai pahlawan tuan rumah. Pada menit ke-86, Ferguson berhasil menjebol gawang Atalanta, memanfaatkan kelengahan di menit-menit akhir. Gol tunggal ini bukan hanya memberikan tiga poin krusial bagi Bologna, tetapi juga menghancurkan upaya Atalanta untuk mencuri angka. Kekalahan ini menjadi bukti bahwa di Dall’Ara, kelengahan sekecil apapun di babak kedua bisa berakibat fatal, sebuah pelajaran yang mahal bagi Gasperini dan pasukannya.
Drama Kartu Merah dan Kegagalan Klinis: Sulitnya Satu Poin di 2024/2025
Kunjungan terbaru Atalanta ke kandang Bologna, yang terjadi pada pekan keenam Serie A 2024/2025, mungkin adalah yang paling frustrasi sekaligus paling menyoroti masalah utama La Dea: efisiensi penyelesaian akhir. Pertandingan berakhir imbang 1-1, namun cara Atalanta mendapatkan satu poin tersebut menunjukkan betapa sulitnya mereka berhadapan dengan Bologna yang defensif dan pragmatis. Secara statistik, Atalanta jelas menguasai jalannya pertandingan. Mereka menciptakan hingga 19 peluang sepanjang laga, sebuah angka yang masif untuk pertandingan tandang Serie A. Ironisnya, dari 19 percobaan tersebut, hanya tiga yang benar-benar mengarah tepat ke gawang. Sebaliknya, Bologna menunjukkan efisiensi yang mengerikan. Tepat setelah jeda babak pertama, Santiago Castro mencetak gol bagi tuan rumah, dan yang lebih mencengangkan, itu adalah satu-satunya tembakan tepat sasaran (shots on target) yang berhasil dicatatkan Bologna sepanjang 90 menit. Skenario semakin menguntungkan Atalanta ketika Jhon Lucumi, pemain belakang Bologna, diusir keluar lapangan karena kartu merah pada menit ke-52. Dengan keunggulan jumlah pemain selama hampir 40 menit penuh, seharusnya Atalanta mampu membanjiri pertahanan Bologna dan membalikkan keadaan dengan mudah. Namun, serangan demi serangan yang mereka lancarkan selalu mental atau gagal dikonversi menjadi gol. Kepahlawanan harus menunggu hingga menit ke-90, ketika Lazar Samardzic akhirnya mencetak gol penyama kedudukan. Satu poin yang didapat dengan susah payah ini, meskipun menghindari kekalahan, terasa seperti dua poin yang hilang mengingat keunggulan mutlak yang dimiliki Atalanta. Ini menegaskan bahwa di Dall’Ara, mentalitas dan ketajaman klinis lebih penting daripada sekadar dominasi penguasaan bola.
Proyeksi Pertandingan 2025/2026: Strategi Gasperini Memutus Rantai Kesulitan
Melihat riwayat tiga kunjungan terakhir—satu kemenangan tipis, satu kekalahan dramatis, dan satu hasil imbang yang sulit—terlihat jelas bahwa Stadio Renato Dall’Ara telah menjadi ujian mentalitas dan taktik yang sesungguhnya bagi Atalanta. Dalam konteks pertemuan 2025/2026 yang akan datang, Atalanta mungkin diunggulkan berdasarkan materi pemain dan performa umum mereka di papan atas. Namun, Bologna memiliki keuntungan psikologis bermain di kandang, ditambah lagi dengan reputasi mereka sebagai tim yang sangat sulit ditaklukkan di depan pendukung sendiri, terlepas dari inkonsistensi yang mungkin mereka tunjukkan di laga tandang. Untuk memutus rantai kesulitan ini dan membawa pulang tiga poin, Gian Piero Gasperini harus mengatasi dua masalah utama yang terlihat di tahun-tahun sebelumnya. Pertama, menghindari kejutan awal yang memungkinkan Bologna unggul lebih dulu, seperti yang terjadi pada 2022/2023 dan 2024/2025. Pertahanan Atalanta harus sangat fokus di 15 menit awal dan 15 menit awal babak kedua. Kedua, dan ini yang paling krusial, adalah meningkatkan efisiensi penyelesaian akhir. Dengan Bologna yang terkenal bermain solid dan mengandalkan serangan balik atau set-piece, Atalanta tidak boleh menyia-nyiakan peluang yang mereka ciptakan, terutama jika mereka mendapatkan keuntungan numerik atau momen momentum. Pertandingan ini diprediksi akan menjadi duel ketat sekali lagi. Kunci bagi Atalanta adalah tidak hanya mendominasi, tetapi juga belajar untuk menjadi klinis dan kejam di depan gawang, sebuah atribut yang seringkali hilang saat mereka bertandang ke sarang Rossoblu.


Tidak ada komentar
Posting Komentar