[Mengungkap Kerugian dan Penanganan Bencana Hidrometeorologi di Indonesia]

Mengungkap Kerugian dan Penanganan Bencana Hidrometeorologi di Indonesia
Illustration: kompas.com

Penyebab Bencana Hidrometeorologi di Indonesia


Bencana hidrometeorologi basah kembali melanda sejumlah wilayah di Indonesia pada akhir Januari 2026. Cuaca ekstrem seperti hujan deras dan angin kencang menjadi pemicu utama terjadinya bencana. Data yang dihimpun oleh BNPB menunjukkan bahwa kerusakan rumah, gangguan aktivitas masyarakat, serta tanah longsor menjadi dampak utama dari kondisi tersebut. Provinsi Banten, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan merupakan daerah yang terdampak signifikan oleh bencana ini.



Status Siaga Darurat di Provinsi Banten


Provinsi Banten telah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi setelah sembilan kecamatan terdampak tanah longsor akibat hujan deras. Keputusan tersebut meliputi kecamatan Cikedal, Cadasari, Cipeucang, Pagelaran, Carita, Cisata, Sindangresmi, Sukaresmi, dan Cimanuk. Keputusan ini bertujuan untuk menghadapi potensi bencana lanjutan dan kesiapsiagaan dalam menangani keadaan darurat.



Jumlah Warga Terdampak dan Kerugian Materi


Dampak bencana di Banten mengakibatkan 16 kepala keluarga atau 64 jiwa terdampak. Selain itu, kerusakan material yang terjadi meliputi rumah yang mengalami rusak berat, sedang, dan ringan. Gangguan aktivitas masyarakat juga terjadi akibat material longsoran yang menghambat akses jalan di beberapa lokasi.



Tindakan Penanganan BNPB dan Pemerintah Daerah


BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD dan pemerintah daerah untuk memastikan penanganan darurat berjalan dengan cepat dan terkoordinasi. Fokus utama penanganan adalah keselamatan warga serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Selain itu, langkah mitigasi juga diperkuat untuk menekan risiko bencana susulan di wilayah yang rawan terjadi longsor dan banjir.


source : kompas.com