![]() |
| Illustration: kompas.com |
Kabur dari Jaringan Penipuan
Seorang pemuda berusia 18 tahun asal Sumatera terpaksa melarikan diri dari sebuah kompleks di Kota Bavet, Kamboja, setelah delapan bulan dipaksa menjalankan online scam tanpa digaji. Ia sebenarnya dijanjikan upah 600 dollar AS per bulan oleh "bos China" yang menjadi atasan. Keputusannya untuk kabur terjadi setelah mendengar kabar polisi Kamboja akan melakukan penggerebekan di tempat kerjanya.
440 WNI Dibebaskan dari Jaringan Online Scam di Kamboja
Kisah pemuda tersebut hanyalah satu dari ratusan cerita serupa. Selama 1–18 Januari 2026, 440 warga negara Indonesia (WNI) mendatangi Kedutaan Besar RI di Phnom Penh setelah dilepaskan dari jaringan online scam di Kamboja. Duta Besar Indonesia untuk Kamboja, Santo Darmosumarto, menjelaskan bahwa gelombang kedatangan WNI ini terkait dengan langkah penindakan aparat Kamboja terhadap industri penipuan daring.
Aksi Penindakan dan Pemulangan WNI
Kedutaan RI akan mempercepat proses pemulangan para WNI yang terlibat dalam kasus penipuan daring. Mereka diarahkan untuk kembali ke Indonesia secara mandiri. Langkah penindakan ini dilakukan setelah pemerintah Kamboja menyatakan komitmen untuk memberantas praktik penipuan online. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan bahwa setidaknya 100.000 orang terlibat dalam industri scam di Kamboja, yang beroperasi melalui pusat-pusat di Asia Tenggara.
Tudingan dan Penegakan Hukum
Meskipun beberapa operator penipuan tampaknya khawatir dengan konsekuensi hukum setelah ekstradisi Chen Zhi, seorang taipan kelahiran China, penegakan hukum terhadap industri penipuan daring masih menjadi perdebatan. Sejumlah pejabat Kamboja membantah tudingan keterlibatan pemerintah dalam praktik penipuan online. Otoritas setempat bahkan mengklaim telah menangkap ribuan orang terkait jaringan penipuan daring dalam beberapa bulan terakhir.
/data/photo/2026/01/10/696258894001a.jpg)