![]() |
| Illustration: kompas.com |
Penyelundupan Beras di Kabupaten Karimun
Penyelundupan beras di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, baru-baru ini terungkap dalam sebuah operasi besar oleh Bea Cukai. Operasi ini melibatkan hampir 1.900 ton beras ilegal, yang berpotensi merusak swasembada pangan Indonesia dan mengancam kestabilan pasokan pangan nasional. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa tindakan penyelundupan ini tidak bisa dibiarkan tanpa konsekuensi yang tegas.
Tindakan Bea Cukai terhadap Penyelundupan Beras
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Khusus Kepri berhasil mengamankan sekitar 1.897 ton beras ilegal selama periode Mei hingga November 2025. Penindakan dilakukan di Kabupaten Karimun sebagai bagian dari pengawasan distribusi komoditas pangan. Mentan Andi Amran Sulaiman sendiri turun langsung ke Kepri untuk memantau penindakan tersebut, memastikan proses hukum berjalan hingga ke akar masalah. Selain beras, aparat juga menyita sejumlah komoditas pangan ilegal lainnya, seperti gula, bawang merah, bawang putih, dan lain sebagainya.
Ancaman terhadap Swasembada dan Ketahanan Pangan Nasional
Pemerintah menilai penyelundupan beras ini terjadi saat stok nasional beras dalam posisi surplus. Dengan stok beras nasional lebih dari tiga juta ton, masuknya 1.000 ton beras ilegal dianggap sebagai tindakan pengkhianatan terhadap bangsa. Mentan Amran menegaskan bahwa keberhasilan mencapai swasembada beras telah diumumkan secara resmi, dan praktik penyelundupan pangan berpotensi melemahkan petani Indonesia yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional.
Kejanggalan Asal Beras dan Risiko Distribusi Ilegal
Mentan Amran juga menyoroti kejanggalan asal beras yang diamankan, berasal dari Tanjungpinang yang tidak memiliki lahan sawah. Distribusi beras ini menuju Palembang, yang notabene memiliki surplus beras. Pola distribusi yang tidak masuk akal ini memperkuat dugaan bahwa beras tersebut disamarkan jalur peredarannya. Pemerintah memastikan proses hukum akan dituntaskan melalui penyidikan Mabes Polri, Satgas terkait, Polda setempat, serta dukungan TNI dan Kejaksaan.
