Rio Dewanto Bongkar Beban Ganda Sapto di Film Alas Roban: Bukan Sekadar Sopir, Ini Tentang Luka yang Tak Terucap - xwijaya

Tidak menemukan artikel? cari disini



Rio Dewanto Bongkar Beban Ganda Sapto di Film Alas Roban: Bukan Sekadar Sopir, Ini Tentang Luka yang Tak Terucap

Rio Dewanto Bongkar Beban Ganda Sapto di Film Alas Roban Bukan Sekadar Sopir, Ini Tentang Luka yang Tak Terucap
Illustration: jakarta.suaramerdeka.com

Ketika Peran 'Sopir' Berubah Menjadi Eksplorasi Psikologis yang Menyakitkan


Dalam jagat sinema Indonesia, aktor kawakan Rio Dewanto dikenal sebagai salah satu figur yang mampu menghidupkan berbagai karakter dengan kedalaman yang meyakinkan. Namun, ada satu pola peran yang secara mengejutkan kerap melekat padanya: peran sebagai seorang sopir. Dari pengemudi mobil pribadi hingga petugas yang menjalankan tugas vital di jalanan, Rio telah beberapa kali didapuk memerankan profesi ini. Meskipun demikian, peran terbarunya sebagai Sapto, seorang sopir ambulans dalam film horor mencekam berjudul Alas Roban, menandai sebuah titik balik penting. Kali ini, tugas mengemudi tidak hanya bersifat fisik, melainkan menjadi kendaraan untuk mengeksplorasi palet emosi yang sangat gelap dan rumit. Sapto jauh dari karakter sopir biasanya yang mungkin berfungsi sebagai pelengkap latar. Ia adalah inti dari badai psikologis yang mengharuskan Rio melangkah lebih jauh dari sekadar menghapal dialog dan teknik mengemudi. Ini adalah tuntutan untuk menyelami jurang trauma yang mendalam, beban masa lalu yang terus menghimpit, dan rasa bersalah yang tak terucapkan. Bagi Rio, tantangan ini membuat peran Sapto terasa istimewa, menuntut bukan hanya stamina fisik di balik kemudi, tetapi juga kekuatan mental untuk membawa luka emosional berlapis di sepanjang durasi film. Film ini membuktikan bahwa di balik setir, sebuah kisah kelam bisa tersimpan, menunggu untuk terkuak di tengah teror mistis yang membayangi jalur legendaris Alas Roban.



Sapto: Beban Masa Lalu, Ambulans, dan Teror Personal yang Menghantui



Karakter Sapto yang diperankan Rio Dewanto bukan sekadar sopir ambulans yang bertugas membawa jenazah atau korban kecelakaan. Ia adalah manifestasi hidup dari trauma yang berkelanjutan, sebuah cangkang yang menyimpan duka dan penyesalan. Konflik utama Sapto bersumber dari tragedi personal yang terjadi di masa lampau: kehilangan istri dan anaknya di kawasan hutan Alas Roban yang terkenal angker. Kehilangan ini bukanlah kenangan yang memudar, melainkan luka menganga yang terus membayangi setiap langkahnya, terutama karena pekerjaannya menuntutnya untuk terus kembali ke lokasi yang mengingatkannya pada duka terbesarnya. Dalam konteks naratif, ambulans yang ia kemudikan bertindak sebagai metafora yang kuat. Itu adalah kendaraan yang melayani kematian dan kesedihan orang lain, sementara Sapto sendiri tengah berjuang membawa beban kematian dalam dirinya. Tugasnya adalah menyelamatkan atau setidaknya mengurus sisa-sisa kehidupan, padahal ia gagal menyelamatkan keluarganya sendiri. Rio Dewanto menjelaskan bahwa bobot emosional karakter ini sangat menantang karena trauma tersebut tidak selalu diungkapkan melalui dialog eksplisit. Sebaliknya, emosi itu hadir sebagai lapisan yang tertahan, mempengaruhi cara Sapto bereaksi terhadap situasi mencekam, tatapan matanya yang kosong, dan ketegasan sikapnya yang kerap diselimuti rasa bersalah. Pendekatan ini menuntut Rio untuk melakukan eksplorasi psikologis yang intens, memastikan bahwa kesedihan dan rasa bersalah Sapto terasa nyata dan menular kepada penonton, bahkan ketika tokoh tersebut memilih bungkam.



Alas Roban: Hutan Legendaris, Latar Mistik, dan Ujian Karakter Utama


Pemilihan Alas Roban sebagai latar utama dalam film ini adalah keputusan yang brilian karena secara inheren menambah dimensi kengerian yang otentik, sekaligus memperkuat konflik batin Sapto. Alas Roban, jalur legendaris yang membentang di Jawa Tengah, telah lama diselimuti mitos dan kisah seram tentang kecelakaan misterius, penampakan, hingga ritual tak kasat mata. Hutan ini bukan sekadar latar belakang geografis, melainkan karakter yang aktif menekan dan menguji ketahanan jiwa Sapto. Bagi kebanyakan orang, Alas Roban adalah tempat yang harus dilalui dengan kewaspadaan. Namun, bagi Sapto, hutan tersebut adalah kuburan kenangan pahit; tempat di mana garis antara realitas dan teror psikologis menjadi kabur. Ketika ia harus menyusuri jalur tersebut sebagai sopir ambulans, setiap tikungan, setiap pohon, dan setiap kabut tebal bisa menjadi pemicu trauma yang ia pendam. Film ini memanfaatkan reputasi mistis Alas Roban untuk memadukan teror fisik (kejadian horor yang dialami di hutan) dengan teror mental (kilas balik dan rasa bersalah Sapto). Melalui sinergi antara latar yang angker dan beban emosional sang protagonis, Alas Roban berhasil mengangkat film horor ke level drama psikologis yang lebih dalam. Hal ini memastikan bahwa penonton tidak hanya akan dikejutkan oleh hantu atau jump scare khas horor, tetapi juga akan merasakan ketidaknyamanan yang muncul dari rasa empati terhadap penderitaan Sapto yang tak kunjung usai.



Kolaborasi Lintas Generasi: Hadrah Daeng Ratu, Chemistry, dan Soliditas Tim



Kesuksesan menghidupkan karakter serumit Sapto tentu tidak lepas dari peran penting sutradara dan rekan sesama pemeran. Rio Dewanto mengungkapkan bahwa proses syuting Alas Roban menjadi pengalaman yang berkesan, terutama karena ini adalah kolaborasi pertamanya dengan sutradara Hadrah Daeng Ratu. Hadrah Daeng Ratu dikenal memiliki sentuhan khas dalam menggarap film horor, sering kali menyelipkan narasi emosional yang kuat di balik adegan-adegan mencekam. Rio memuji bagaimana Hadrah mampu membimbingnya untuk menemukan keseimbangan dalam memerankan trauma Sapto, memastikan bahwa emosi yang tertahan tersebut disampaikan dengan subtil namun berdampak besar. Selain itu, Rio juga mengungkapkan rasa senangnya bisa berbagi layar dengan para aktor lain, termasuk Taskya Namya, yang belakangan kerap dijuluki sebagai salah satu "ratu horor" Indonesia. Meskipun ini merupakan kali pertama Rio bekerja sama secara langsung dengan Hadrah dan Taskya dalam satu proyek, ia merasakan adanya soliditas dan chemistry yang kuat di lokasi syuting. Kerja tim yang suportif ini sangat krusial, mengingat materi cerita yang diangkat sangat gelap dan menuntut. Ketika seorang aktor harus menghabiskan waktu yang lama dalam kondisi emosional yang tertekan—seperti yang dialami Sapto—dukungan dan profesionalisme dari tim produksi dan rekan sesama pemain menjadi kunci agar proses kreatif dapat berjalan lancar tanpa mengorbankan kesehatan mental aktor. Kolaborasi ini membuktikan bahwa kombinasi sutradara berpengalaman dan pemain yang berdedikasi adalah formula wajib untuk menghadirkan horor yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga memiliki jantung naratif yang kuat.



Menyelami Lapisan Emosi: Mengapa Alas Roban Lebih dari Sekadar Film Horor Jump Scare Biasa


Film Alas Roban, melalui lensa karakter Sapto, berhasil menawarkan lebih dari sekadar tontonan horor standar. Ia menjembatani jurang antara teror supernatural dan drama psikologis yang kelam. Di tengah kengerian yang berasal dari mitos dan entitas di Alas Roban, konflik terbesar yang dihadapi penonton adalah perjuangan Sapto melawan dirinya sendiri: melawan rasa bersalah atas tragedi yang menimpanya. Rio Dewanto menyadari bahwa film ini mengangkat isu kehilangan dan trauma yang sangat relevan, di mana rasa bersalah dapat menjadi hantu yang jauh lebih menakutkan dan sulit dihadapi daripada sosok astral mana pun. Transformasi Rio dalam peran ini menunjukkan bagaimana seorang aktor dapat menggunakan karakter yang tampak biasa (seorang sopir) untuk menyajikan studi karakter yang kompleks dan berlapis. Film ini mendorong penonton untuk mempertanyakan seberapa jauh Sapto akan terus membawa beban ini, dan apakah misteri di balik kehilangan keluarganya akan pernah terpecahkan. Ini adalah narasi yang sengaja dibiarkan menggantung secara emosional, memberikan kedalaman yang jarang ditemukan dalam genre horor populer. Akhirnya, melalui pengakuan Rio Dewanto tentang tantangan mendalam dalam memerankan Sapto, Alas Roban memposisikan dirinya bukan hanya sebagai film yang menguji adrenalin, tetapi sebagai eksplorasi mendalam mengenai bagaimana trauma dapat membentuk, menghancurkan, dan pada akhirnya, mendefinisikan seorang manusia. Film ini adalah pengingat bahwa ketakutan terbesar sering kali datang dari dalam, mengalir bersama hembusan angin di hutan yang paling angker sekalipun.




Tidak ada komentar