![]() |
| Illustration: bareksa.com |
Bank Sentral Dunia Makin Agresif Borong Emas
Dalam satu dekade terakhir, bank sentral global meningkatkan cadangan emas secara signifikan. The Fed mencatat pertumbuhan cadangan emas sekitar 10,53% CAGR sejak 2015, dengan nilai cadangan mencapai US$682,3 miliar. Bank sentral Rusia dan China juga agresif menambah kepemilikan emas, masing-masing mencatat pertumbuhan dua digit dalam periode 2015–2025. Negara-negara BRICS mulai memperbesar porsi emas dalam cadangan devisa sebagai strategi diversifikasi dari dolar AS. Lonjakan pembelian emas oleh bank sentral memperkuat sentimen bullish jangka panjang, sekaligus mempersempit pasokan di pasar global.
Produksi Emas Global Melambat
Produksi emas dunia mencapai rekor baru 3.671,6 ton pada 2025. Namun pertumbuhannya sangat tipis, hanya sekitar 1% YoY, dengan CAGR 1,16% periode 2018–2025. Volume permintaan emas global hanya tumbuh 0,51% CAGR, namun nilai permintaan melonjak 13,48% CAGR akibat kenaikan harga. Permintaan investasi naik 84% YoY menjadi 2.175,3 ton pada 2025. Artinya, kenaikan harga emas lebih didorong oleh pembelian berbasis investasi dibandingkan konsumsi fisik.
Outlook Industri Emas Indonesia 2026
Produksi emas Indonesia belum sepenuhnya pulih ke level pra-pandemi. Beberapa faktor kunci seperti tambang PT Freeport Indonesia (Grasberg) yang sempat menghentikan produksi pada September 2025 akibat longsor besar, proyek Pani milik Merdeka Group yang diperkirakan mulai berkontribusi pada 2026, dan pencabutan izin tambang Martabe serta lambatnya progres proyek Doup berpotensi menahan pemulihan lebih agresif. Dengan kembali beroperasinya Grasberg di kuartal II 2026, produksi nasional diproyeksikan mulai pulih secara bertahap.
