![]() |
| Illustration: radartulungagung.jawapos.com |
Perang Harga Mobil Listrik: Fenomena BYD Seagull
Perang harga mobil listrik kembali memanas setelah BYD meluncurkan model terbarunya dengan banderol yang mengejutkan. Di pasar asalnya, China, mobil listrik BYD Seagull atau dikenal sebagai Atto 1 dibanderol setara Rp150 jutaan untuk varian terendah. Langkah agresif ini langsung mengguncang industri otomotif dan memicu efek domino di berbagai negara, termasuk Indonesia. Perang harga mobil listrik ini menjadi sorotan karena secara historis segmen mobil di bawah Rp200 juta di Indonesia diisi mobil konvensional seperti Brio, Agya, atau Picanto.
Reaksi Pasar terhadap Harga Mobil Listrik BYD
Masuknya BYD dengan strategi harga agresif membuat pabrikan lain tak punya banyak pilihan selain merespons. Perang harga mobil listrik pun tak terelakkan. Sejumlah merek China dan non-China terpantau melakukan banting harga besar-besaran, terutama saat pameran otomotif GIIAS 2025. Data pergerakan harga menunjukkan penurunan tajam pada mobil listrik baru. Wuling Binguo EV yang sempat naik harga dari 2024 ke 2025, justru dibanting drastis hingga turun lebih dari 40 persen saat GIIAS.
Dampak Perang Harga terhadap Pasar Mobil Listrik Bekas
Perang harga mobil listrik tidak hanya memukul pasar mobil baru, tetapi juga menghantam keras pasar mobil bekas. Mobil listrik yang dibeli pada 2022–2024 tercatat mengalami depresiasi 20–30 persen hanya dalam satu tahun. Setelah perang harga 2025, depresiasi tersebut semakin dalam. Contohnya, Wuling Air EV dan Binguo EV bekas kini dihargai nyaris setara dengan selisih tipis dibanding unit baru yang sudah didiskon besar. Situasi ini membuat konsumen enggan membeli unit bekas karena selisih harga yang tidak lagi menarik.
Strategi Harga BYD dalam Perang Harga Mobil Listrik
Menariknya, dampak perang harga tidak sepenuhnya dirasakan oleh BYD. Harga mobil listrik bekas BYD relatif lebih stabil dibanding kompetitor. BYD Dolphin dan BYD M6 hanya mengalami depresiasi sekitar 10–15 persen. Sementara BYD Seal turun lebih besar, sekitar 25 persen, tetapi masih lebih baik dibanding rival di kelasnya. Strategi harga yang tidak terlalu agresif membanting harga resmi menjaga persepsi nilai merek BYD di pasar sekunder.
