Kutukan Pengetahuan: Ketika Ilmu Menjadi Simbol Jarak

Kutukan Pengetahuan Ketika Ilmu Menjadi Simbol Jarak
Illustration: kompas.com

Ironi Pengetahuan dalam Masyarakat

Dalam masyarakat yang semakin bergantung pada ilmu pengetahuan, terdapat ironi yang jarang disadari secara jujur oleh dunia akademik. Ilmu yang seharusnya menjadi sarana pembebasan seringkali berubah menjadi simbol jarak. Pengetahuan yang lahir dari ruang kelas dan jurnal ilmiah tidak selalu hadir sebagai cahaya bagi publik luas, melainkan sebagai bahasa asing yang hanya dipahami oleh segelintir orang. Inilah yang dapat disebut sebagai kutukan pengetahuan, di mana semakin tinggi tingkat keilmuan seseorang, semakin sulit bagi mereka untuk menerjemahkan gagasan mereka ke dalam bahasa yang sederhana dan berdampak nyata bagi masyarakat.


Feodalisme Akademik dan Kutukan Pengetahuan


Relasi kutukan pengetahuan dengan feodalisme akademik terjadi ketika perguruan tinggi yang seharusnya menjadi ruang egaliter justru memperkuat hierarki yang kaku. Gelar akademik, jabatan fungsional, dan afiliasi institusi sering digunakan sebagai alat legitimasi untuk membungkam kritik. Bahasa ilmiah yang rumit bukan lagi sebagai sarana komunikasi, melainkan sebagai pagar yang membatasi partisipasi dalam diskursus. Mahasiswa pun terkadang terjebak dalam reproduksi bahasa elit tanpa benar-benar memahami substansinya, membuat proses pendidikan hanya menjadi ritual formalitas tanpa memahami realitas.


Perubahan Paradigma dalam Dunia Akademik

Untuk keluar dari kutukan pengetahuan, diperlukan perubahan paradigma dalam dunia akademik. Pertama, ilmuwan perlu menyadari bahwa komunikasi publik adalah tanggung jawab mereka. Menulis secara populer, berbicara di ruang komunitas, dan berdialog dengan masyarakat merupakan bagian integral dari pengabdian ilmu. Perguruan tinggi juga perlu memberi insentif yang setara bagi akademisi yang mampu menjembatani ilmu dan publik. Kedua, pendidikan tinggi harus mengajarkan kerendahan hati intelektual, di mana pengetahuan bukan hanya lahir dari jurnal dan laboratorium, tetapi juga dari pengalaman hidup masyarakat.


source : kompas.com