![]() |
| Illustration: cnbcindonesia.com |
Pasar Kripto Melemah di Pagi Ini
Pergerakan pasar kripto cenderung melemah pada perdagangan pagi ini. Dari 10 kripto berkapitalisasi pasar terbesar, sebagian besar berada di zona merah dalam 24 jam terakhir, dengan tekanan paling dalam terjadi pada Ethereum dan Dogecoin. Mengacu data CoinMarketCap pada perdagangan Senin (16/2/2026) per pukul 10.05 WIB, Bitcoin (BTC) sebagai aset kripto dengan market cap terbesar diperdagangkan di US$68.758,74 atau mengalami penurunan 1,43% dalam 24 jam terakhir dan melemah 2,30% dalam sepekan. Kapitalisasi pasarnya pun tercatat turun ke sekitar US$1,37 triliun atau setara Rp23.126 triliun (asumsi kurs Rp16.825).
Ethereum dan Dogecoin Turun Tajam
Pelemahan lebih tajam terjadi pada Ethereum (ETH) yang turun 5,61% dalam 24 jam terakhir ke US$1.966,63. Secara mingguan, ETH juga terkoreksi 5,87%, menjadikannya salah satu yang terlemah di jajaran kripto papan atas. Sementara itu, Dogecoin (DOGE) mencatat penurunan harian paling besar di kelompok ini, merosot 7,64% ke US$0,1025. Namun menariknya, dalam jangka waktu 7 hari, DOGE masih menguat 6,10% yang menandakan volatilitas pergerakan harga yang masih tinggi.
Sentimen dan Perkembangan Pasar Kripto
Sentimen pasar kripto masih rapuh. Bitcoin pada perdagangan sebelumnya Minggu (15/2/2026), sempat kembali menanjak dan mendekati level psikologis US$70.000 setelah data inflasi AS yang lebih dingin memicu perbaikan selera risiko, tetapi kehati-hatian investor belum sepenuhnya hilang sehingga harga tetap mudah berbalik akibat terjadinya aksi ambil untung oleh pelaku pasar.Pasar juga masih menimbang arah suku bunga AS lewat rilis data ekonomi berikutnya. Ketika ekspektasi suku bunga kembali tidak pasti, aset berisiko seperti kripto cenderung ikut terseret volatilitas, termasuk menekan Ethereum yang biasanya lebih sensitif saat pasar kembali risk-off. Risiko kebijakan dari pemerintahan AS juga menjadi perhatian, terutama setelah muncul peringatan bahwa agenda politik bisa membuat kripto diperlakukan sebagai alat untuk kepentingan dominasi dolar.
