Misteri Marsupial Kuno Papua: Benarkah Mereka Masih Hidup?

Misteri Marsupial Kuno Papua Benarkah Mereka Masih Hidup
Illustration: kompas.com

Kejutan Besar: Marsupial Kuno Papua Ternyata Masih Hidup


Selama ribuan tahun, para ilmuwan meyakini dua spesies marsupial kuno telah punah sejak akhir Zaman Es. Namun temuan terbaru mengungkap kejutan besar: kedua hewan tersebut masih hidup dan bersembunyi di hutan terpencil Papua. Penelitian yang dipublikasikan pada 6 Maret di jurnal Records of the Australian Museum mengonfirmasi keberadaan kusu kerdil jari panjang (Dactylonax kambuayai) dan kusu layang ekor cincin (Tous ayamaruensis) di hutan hujan Semenanjung Vogelkop, Papua Barat Daya.



Dactylonax Kambuayai: Possum Jari Panjang Kerdil


Marsupial kecil ini memiliki tubuh sekitar 17,6 sentimeter dengan ekor sepanjang 18 sentimeter. Kepalanya bercorak garis hitam dan putih yang mencolok. Keunikan paling mencolok ada pada tangannya. Jari keempat hewan ini dua kali lebih panjang daripada jari lainnya. Struktur ini berfungsi sebagai alat khusus untuk mencari makan. Dengan jari tersebut, kusu ini mampu mengorek larva kumbang dari batang kayu yang membusuk.



Tous Ayamaruensis: Kusu Layang Ekor Cincin


Spesies kedua, Tous ayamaruensis, merupakan genus baru yang merupakan kerabat dari greater glider di Australia. Hewan ini hidup di tajuk hutan primer dan memakan getah pohon, yang diambil dengan cara menyayat kulit batang menggunakan cakarnya. Kusu ini juga hidup di lubang pohon dan biasanya membentuk pasangan seumur hidup. Setiap tahun, mereka hanya melahirkan satu anak.



Peran Penting Pengetahuan Masyarakat Adat


Penemuan kembali dua spesies langka ini tidak hanya berkat kerja ilmuwan internasional, tetapi juga pengetahuan masyarakat adat Papua. Para peneliti bekerja sama dengan suku Tambrauw dan Maybrat, yang telah lama mengenal hewan tersebut dengan nama lokal Tous wan atau Tous wansai. Kepercayaan masyarakat adat ini membantu menjaga kelestarian spesies tersebut selama ribuan tahun.



Mengapa Lokasi Penemuan Dirahasiakan?


Meski menjadi kabar menggembirakan bagi dunia sains, keberadaan kedua marsupial ini tetap sangat rentan. Ancaman utama yang dihadapi antara lain penebangan hutan, fragmentasi habitat, hingga perdagangan satwa liar. Karena itu, para peneliti sengaja merahasiakan lokasi pasti penemuan untuk mencegah perburuan atau perdagangan ilegal.


source : kompas.com