Memilih jurusan kuliah tidak lagi sekadar mengikuti minat atau reputasi kampus. Di tengah revolusi Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi, sejumlah program studi mulai kehilangan daya tarik karena prospek kerja yang menurun, gaji yang stagnan, dan sedikitnya lowongan pekerjaan. Penelitian yang dirilis oleh ekonom ketenagakerjaan Harvard, David J. Deming dan Kadeem Noray pada 2020 mengungkapkan sepuluh jurusan yang kini dianggap kurang relevan di pasar kerja modern.
Kenapa Jurusan‑jurusan Ini Mulai Dipertanyakan?
Studi Harvard menunjukkan bahwa perusahaan kini menuntut keterampilan teknis yang sangat spesifik serta kemampuan beradaptasi yang cepat. Jurusan yang tidak mampu mengikuti perubahan teknologi atau yang menghasilkan lulusan dalam jumlah berlebih akan menghadapi persaingan ketat, sehingga nilai (value) gelarnya menurun. Selain itu, sektor‑sektor tradisional seperti beberapa bidang humaniora dan ilmu sosial juga mengalami penurunan karena jalur karier yang kurang jelas dibandingkan jurusan STEM.
Daftar 10 Jurusan yang Mulai Kurang Disukai
- Administrasi Bisnis Umum (MBA) – Lulusan berjumlah banyak, tetapi perusahaan kini lebih menyukai kandidat dengan keahlian khusus, bukan sekadar gelar umum.
- Ilmu Komputer – Meskipun masih menjanjikan, lulusan harus terus‑menerus memperbarui skill untuk tetap kompetitif, yang membuat beban belajar menjadi sangat tinggi.
- Teknik Mesin – Otomatisasi dan manufaktur berbasis robotik mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja tradisional di bidang ini.
- Teknik Elektro – Perkembangan teknologi energi terbarukan dan sistem digital menuntut keahlian yang lebih khusus daripada kurikulum standar.
- Teknik Sipil – Proyek infrastruktur besar semakin mengandalkan perangkat lunak simulasi dan AI, sehingga permintaan akan tenaga kerja konvensional menurun.
- Ilmu Ekonomi – Banyak perusahaan beralih ke analitik data dan ilmu data, sehingga lulusan ekonomi tradisional dianggap kurang siap.
- Ilmu Hukum – Otomatisasi dokumen dan AI dalam analisis kasus mengurangi kebutuhan akan jumlah besar lulusan hukum.
- Psikologi – Keterbatasan lapangan kerja di sektor klinis dan meningkatnya penggunaan platform digital membuat prospek karier terasa sempit.
- Ilmu Sosial (Sosiologi, Antropologi) – Jalur karier yang tidak jelas dan persaingan dengan lulusan STEM yang lebih “praktis” membuat jurusan ini kurang diminati.
- Desain Grafis Tradisional – AI generatif dan alat desain otomatis menurunkan permintaan akan desainer dengan keahlian konvensional.
Para calon mahasiswa dan mahasiswa yang mendekati kelulusan kini harus lebih cermat menilai nilai tambah yang dapat mereka peroleh dari jurusan pilihan. Memilih program yang selaras dengan tren teknologi, memiliki peluang magang yang kuat, serta menawarkan kurikulum yang fleksibel untuk belajar skill baru menjadi kunci untuk menghindari jebakan pasar kerja yang semakin kompetitif.
Jika Anda sedang mempertimbangkan jurusan kuliah, perhatikan data pasar kerja, proyeksi gaji, serta tingkat pertumbuhan industri terkait. Memilih jurusan yang adaptif terhadap perubahan teknologi tidak hanya meningkatkan peluang kerja, tetapi juga memastikan karier yang berkelanjutan di masa depan.