Abacavir merupakan obat antivirus yang termasuk dalam kelompok nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NRTIs). Obat ini dipakai untuk menekan replikasi virus HIV, sehingga menurunkan jumlah virus dalam darah dan memperlambat perkembangan gejala AIDS. Agar efektif, abacavir biasanya diberikan bersamaan dengan obat anti‑HIV lain.
Bagaimana Cara Kerja Abacavir?
Abacavir menghambat enzim reverse transcriptase, yaitu mesin virus yang mengubah RNA menjadi DNA. Tanpa proses ini, virus tidak dapat memperbanyak diri di dalam sel darah putih, sehingga sistem kekebalan tubuh penderita HIV dapat berfungsi lebih baik dan risiko komplikasi berat—seperti infeksi oportunistik, kanker tertentu, atau progresi ke AIDS—menjadi lebih kecil. Meskipun begitu, abacavir bukan obat penyembuh HIV dan tidak melindungi dari penularan virus.
Indikasi, Bentuk Sediaan, dan Kategori Kehamilan
- Kategori: Antivirus, NRTIs
- Bentuk: Tablet
- Penggunaan: Dewasa dan anak ≥3 bulan (berat badan ≥25 kg)
- Kehamilan: Kategori C – hanya bila manfaat melebihi risiko pada janin.
- Ibu menyusui: Tidak dianjurkan menyusui bagi ibu HIV untuk menghindari penularan melalui ASI.
Peringatan Penting Sebelum Mengonsumsi
Sebelum memulai terapi, beri tahu dokter tentang alergi, riwayat penyakit hati, ginjal, atau jantung, serta adanya varian genetik HLA‑B*5701. Informasikan semua suplemen, obat herbal, atau obat HIV lain yang sedang dikonsumsi untuk menghindari interaksi. Jika Anda hamil, merencanakan kehamilan, atau menyusui, konsultasikan risikonya secara detail.
Dosis dan Aturan Pakai
Dosis ditentukan berdasarkan usia, berat badan, dan respons klinis. Contoh dosis umum:
- Dewasa & anak ≥3 bulan dengan berat badan ≥25 kg: 300 mg dua kali sehari atau 600 mg sekali sehari.
- Anak 14–19 kg: 150 mg dua kali sehari atau 300 mg sekali sehari.
- Anak 20–24 kg: 150 mg pagi + 300 mg malam atau 450 mg sekali sehari.
Penggunaan harus konsisten, sebelum atau sesudah makan, ditelan utuh dengan air putih. Jika lupa, minum segera ketika teringat, namun jangan menggandakan dosis. Simpan di tempat sejuk, tertutup, jauh dari jangkauan anak, dan hindari tablet kadaluarsa.
Interaksi Obat
Beberapa kombinasi dapat menurunkan efektivitas atau meningkatkan toksisitas, antara lain:
- Ribavirin → risiko kerusakan hati meningkat.
- Phenytoin, rifampicin, phenobarbital → penurunan kadar abacavir.
- Methadone → penurunan kadar darah.
Hindari konsumsi alkohol karena dapat meningkatkan konsentrasi abacavir dalam darah.
Efek Samping yang Mungkin Muncul
Gejala ringan: sakit kepala, mual, muntah, diare, kehilangan nafsu makan, gelisah, mimpi aneh, hidung tersumbat.
Reaksi serius yang memerlukan penanganan medis segera meliputi:
- Demam, menggigil, pembengkakan kelenjar, batuk, sesak napas, penurunan berat badan.
- Gejala hipertiroidisme (gondok, mata menonjol, jantung berdebar).
- Gangguan fungsi hati (urin gelap, tinja pucat, penyakit kuning).
- Nyeri otot berkepanjangan, lemas, kesemutan, gangguan keseimbangan.
- Depresi, nyeri dada menyebar ke bahu/rahang.
- Asidosis laktat (napas cepat, muntah, kram otot).
Jika mengalami gejala di atas, segera hubungi dokter atau layanan kesehatan daring.
Kesimpulan
Abacavir adalah komponen penting dalam regimen terapi antiretroviral (ART) untuk mengendalikan HIV. Penggunaan yang tepat, pengawasan rutin, dan perhatian pada interaksi obat serta efek samping dapat memaksimalkan manfaatnya sekaligus meminimalkan risiko.