Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) menjadi momentum penting untuk meninjau tidak hanya kualitas pembelajaran, tetapi juga keselamatan siswa di lingkungan sekolah. Belakangan ini, sejumlah insiden tragis menyoroti bahaya listrik tersembunyi yang dapat mengancam nyawa. Pada 2025, seorang siswa di Surabaya meninggal setelah tersengat listrik dari kabel pendingin udara yang terkelupas di atap sekolah. Tak lama kemudian, di Pasuruan, seorang siswa tewas karena tersengat listrik dari kabel mikrofon saat kegiatan classmeet. Kasus serupa juga terjadi di Denpasar, di mana seorang siswa meninggal saat menyiapkan pencahayaan panggung.
Insiden‑insiden tersebut menunjukkan bahwa risiko kebocoran arus listrik dapat muncul di mana saja: ruang kelas, halaman, atap gedung, bahkan peralatan acara. Menurut Hadian Satria Utama, MSEE, dosen Universitas Tarumanagara, kebocoran arus sering tidak terlihat karena instalasi listrik tetap tampak normal. Perlindungan yang umum dipakai, yaitu Miniature Circuit Breaker (MCB), hanya melindungi dari beban berlebih atau hubung singkat, bukan kebocoran arus ke tanah.
Hadian menjelaskan bahwa kebocoran arus dapat disebabkan oleh isolasi kabel rusak, gangguan internal perangkat elektronik, atau sistem pentanahan yang tidak tepat. Dalam kondisi tertentu, arus listrik mengalir melalui badan alat, lantai, atau dinding yang basah, sehingga ketika seseorang menyentuh bagian yang teraliri listrik, sengatan dapat terjadi sebelum MCB memutus aliran.
Untuk mencegah tragedi serupa, sekolah perlu melakukan langkah-langkah berikut:
- Memasang Residual Current Device (RCD) atau Ground Fault Circuit Interrupter (GFCI) yang dapat mendeteksi kebocoran arus dan memutus aliran secara cepat.
- Melakukan inspeksi rutin terhadap instalasi listrik, terutama pada perangkat yang sering dipindah‑pindah seperti pendingin udara, mikrofon, dan perlengkapan panggung.
- Mengawasi kondisi lingkungan seperti kebocoran air atau kelembapan yang dapat meningkatkan risiko arus bocor.
- Memberikan pelatihan keselamatan listrik kepada guru, tenaga kependidikan, dan siswa.
Dengan memperkuat standar instalasi, menambah perangkat proteksi, dan meningkatkan kesadaran, sekolah dapat menjamin lingkungan belajar yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga aman dari bahaya listrik yang tak terlihat.