Juru bicara Hamas, Hazem Qasim, menuduh Board of Peace (BoP) yang dibentuk oleh mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump abai terhadap rencana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menguasai sekitar 70 persen wilayah Jalur Gaza. Qasim menilai sikap tak berkomentar BoP sebagai bentuk pembiaran terhadap kebijakan ekspansif Israel yang, menurutnya, melanggar kesepakatan gencatan senjata yang disepakati pada Oktober 2025.
Netanyahu mengumumkan dalam konferensi pers pada 28 Mei 2026 bahwa pasukan Israel kini menguasai 60 persen Gaza dan akan melanjutkan proses secara bertahap hingga mencapai 70 persen. Pernyataan tersebut dianggap bertentangan dengan kesepakatan yang menuntut Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mundur ke “yellow line”, yang hanya memberi Israel kontrol atas sekitar 53 persen wilayah Gaza.
Board of Peace, yang diumumkan pada awal tahun ini, melibatkan tokoh-tokoh kontroversial seperti mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair dan menantu Trump, Jared Kushner. Sejak pembentukannya, badan ini banyak dikritik karena dianggap mengabaikan suara rakyat Palestina dalam menentukan masa depan Gaza.
Hamas menegaskan bahwa Israel terus melanjutkan agenda pengusiran warga Palestina sambil negosiasi damai yang dimediasi Amerika Serikat masih buntu. Sementara itu, serangan militer Israel di Gaza belum menunjukkan tanda menghentikan operasi.