1.940 Orang Cabut Dari Program Magang Nasional, Ternyata Alasannya Justru Bikin Senyuman

1940 Orang Cabut Dari Program Magang Nasional, Ternyata Alasannya Justru Bikin Senyuman
Illustration: finance.detik.com

Program Magang Batch 3 Resmi Ditutup, Angkanya Ngeri

Hari ini Menteri Ketenagakerjaan Yassierli resmi menutup program magang nasional batch ke-3 tahun 2025. Dengan ditutupnya batch terakhir ini, berakhir sudah perjalanan program yang cukup banyak heboh di media sosial beberapa bulan lalu. Tapi yang bikin saya angkat alis bukan soal penutupannya, melainkan angka-angka yang muncul dari laporan resmi Kemnaker. Dari 100 ribu kuota yang dibuka, ternyata ada 102 ribu orang yang mendaftar. Angka yang melebihi target, suatu hal yang jarang terjadi untuk program pemerintah belakangan ini.

Nah, di sinilah menariknya. Dari jumlah pendaftar yang melampaui kuota itu, ada 1.940 peserta yang memutuskan undur diri. Angkanya bukan kecil, hampir dua ribu orang. Tapi tunggu dulu, sebelum kita langsung negatif thinking dan mengira program ini gagal total, Kepala Barenbang Kemnaker Anwar Sanusi menjelaskan alasan di balik pengunduran diri massal ini. Dan percaya atau tidak, alasan terbesarnya justru sesuatu yang bisa kita bilang positif.

Alasan Utama Mundur: Dapat Kerja Lain!

Jujur saja, pas pertama baca data ini saya kira alasan pengunduran diri bakal soal gaji yang kecil atau kondisi kerja yang kurang ideal. Tapi realitanya? Dari 1.940 peserta yang cabut, 1.279 orang di antaranya mengundurkan diri karena mereka dapat pekerjaan lain! Bayangkan, itu artinya lebih dari separuh peserta yang meninggalkan program magang ini sudah berhasil dapat kerja permanen di tempat lain. Anwar Sanusi sampai bilang ini justru berita yang cukup menggembirakan. Dan saya setuju sama sekali dengan pernyataan itu.

Memang sih ada juga 295 peserta yang mundur karena alasan pribadi dan keluarga. Kemudian 93 orang karena melanjutkan pendidikan, 55 orang karena alasan kesehatan, dan 60 orang karena lokasi perusahaan terlalu jauh. Ada juga 49 orang dengan alasan lain yang tidak disebutkan spesifiknya, plus 109 orang yang meninggalkan tanpa keterangan sama sekali. Tapi proporsi terbesar tetap soal dapat kerja lain. Ini menunjukkan program magang nasional punya efek domino yang menarik bagi pasar tenaga kerja di Indonesia.

Yang menyelesaikan program magang sampai akhir? Ada 20.450 orang. Angka yang cukup fantastis menurut saya. Dari total peserta yang ikut program selama 6 bulan ini, lebih dari 20 ribu orang berhasil bertahan sampai akhir. Itu tanpa memperhitungkan mereka yang mungkin sudah dapat kerja di perusahaan tempat magang. Soalnya biasanya kan begitu, magang bagus, terus diterima kerja tetap. Sayangnya data ini tidak disebutkan dalam laporan resminya.

Estimasi Awal Sudah Dihitung, Ternyata

Yassierli dalam konferensi persnya menjelaskan pihaknya sudah memperkirakan akan ada peserta yang mengundurkan diri selama periode magang berjalan. Jadi bukan kejutan sama sekali bagi Kemnaker. Menurutnya, dari awal mereka sudah tahu ada kemungkinan peserta cabut di tengah jalan, entah karena dapat kerja, lanjut kuliah, atau alasan lainnya. Pendekatan realistis seperti ini menurut saya cukup matang dan menunjukkan perencanaan yang tidak asal tempel angka.

Trus pertanyaannya sekarang, apakah program magang nasional ini sukses? Kalau kita lihat dari sudut pandang jumlah peserta yang menyelesaikan program, 20 ribu lebih orang yang sudah dibekali pengalaman kerja selama 6 bulan itu bukan angka main-main. Ditambah lagi lebih dari seribu orang yang berhasil mendapatkan pekerjaan lain selama masa magang. Efeknya bukan cuma soal angka, tapi juga soal dampak riil terhadap penyerapan tenaga kerja.

Masalah utamanya adalah bagaimana program ini bisa berkelanjutan dan makin besar di tahun-tahun mendatang. Yassierli sudah menyatakan program magang nasional 2025 dinyatakan selesai dengan ditutupnya batch ke-3. Pertanyaan yang muncul di kepala saya, bagaimana dengan tahun depan? Apakah kuota akan ditambah? Ataukah ada revisi mekanisme supaya makin banyak peserta yang bisa terserap?

Refleksi: Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Melihat data yang ada, saya melihat satu pola menarik di sini. Program magang nasional ini ternyata berfungsi sebagai semacam batu loncatan bagi para pesertanya. Bukan sekadar tempat nongkrong 6 bulan dapat sertifikat, tapi benar-benar jadi ajang pembuktian diri di dunia kerja. Bukti paling nyata? Lebih dari seribu orang dapat kerja lain selama masa magang. Artinya selama mereka magang, kemampuan dan keterampilan mereka terasah sampai-sampai perusahaan lain tertarik merekrut.

Ini juga mengingatkan saya pada diskusi soal pendidikan vokasi di Indonesia. Banyak yang bilang lulusan vokasi susah dapat kerja, tapi program magang ini membuktikan sebaliknya. Ketika ada kesempatan praktik langsung di industri, kemampuan seseorang bisa meningkat drastis dalam waktu singkat. Enam bulan bukan waktu yang lama untuk belajar, tapi cukup untuk mengubah mindset dan skill seseorang dari nol menjadi siap pakai.

Aneh kan kalau ada yang bilang program ini mubazir? Bayangkan kalau 20 ribu orang itu tidak punya pengalaman magang sama sekali. Berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk bisa bersaing di pasar kerja? Dengan program ini, mereka sudah punya bekal pengalaman yang bisa dicantumkan di CV. Dan pengalaman magang 6 bulan itu punya nilai jual tersendiri di mata recruiter.

Soal 1.940 orang yang mengundurkan diri, saya rasa itu bukan indikator kegagalan. Justru sebaliknya, itu menunjukkan dinamika pasar kerja yang hidup. Orang-orang bergerak, mencari peluang, dan menemukan jalan masing-masing. Kalau program pemerintah bisa jadi katalis pergerakan itu, kenapa tidak? Toh pada akhirnya tujuannya sama-sama menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran.

Satu hal yang masih mengganjal di benak saya: bagaimana nasib mereka yang mengundurkan diri tanpa keterangan? 109 orang ini misteri. Apakah mereka menemukan jalan buntu? Ataukah ada faktor lain yang tidak terungkap? Mungkin perlu ada pendataan lebih lanjut untuk kasus-kasus seperti ini, supaya program berikutnya bisa makin tepat sasaran.

Yang jelas, Menaker Yassierli dan jajarannya tampak optimis dengan hasil program magang nasional 2025. Dengan total 20.450 peserta yang menyelesaikan program dan lebih dari seribu orang yang berhasil dapat kerja lain, angka-angka ini bicara banyak soal efektivitas program. Tinggal bagaimana pemerintah mengoptimalkan program serupa di tahun mendatang dengan kuota yang lebih besar dan mekanisme yang makin terperbaiki.

Ada usul dari Menaker soal kuota magang nasional 2026 yang diajukan menjadi 150 ribu peserta. Kalau ini terealisasi, artinya ada peningkatan signifikan dari 100 ribu kuota di tahun 2025. Tentu saja dengan kuota yang lebih besar, tantangannya juga akan makin kompleks. Tapi kalau melihat track record batch pertama sampai ketiga di 2025, sepertinya Kemnaker sudah punya peta jalan yang cukup matang.

Saya pribadi menunggu dengan antusias bagaimana program ini akan berkembang. Karena di akhir hari, setiap program yang bisa membantu rakyat Indonesia dapat kerja adalah program yang layak diapresiasi. Apalagi di tengah kondisi ekonomi global yang makin tidak menentu, inisiatif seperti ini jadi semacam jaring pengaman bagi mereka yang butuh pengalaman kerja.