![]() |
| Illustration: kompas.com |
Dari Gerobak Biru Menuju Kesuksesan di Tapak Wisata Dunia
Slamet duduk santai di balik gerobak kayu berwarna biru muda yang telah menjadi saksi perjalanan usahanya selama bertahun-tahun. Lokasi strategis di tepi jalan Dusun Tingal Wetan, Wanurejo, Kecamatan Borobudur, memberikannya akses langsung ke ribuan wisatawan yang berkunjung ke salah satu keajaiban dunia ini. Pagi itu, saat jarum jam menunjukkan pukul 09.30 WIB, tumpukan pentol yang masih menggunung di dalam kotak kaca menjadi bukti bahwa hari baru saja dimulai. Di balik kaca pelindung, puluhan pentol berukuran cukup besar tersusun rapi berdampingan dengan tahu aci dan berbagai kudapan pendamping lainnya. Mata Slamet sesekali menatap ke arah jalan, menantikan kedatangan deretan Volkswagen Safari klasik yang menjadi transportasi wisata favorit di kawasan ini. Harapannya sederhana namun penuh makna, setidaknya ada segelintir wisatawan yang turun dan menyempatkan waktu untuk mencicipi dagangannya sebelum melanjutkan perjalanan mengelilingi kompleks candi terbesar di dunia ini.
Transformasi Digital yang Mengubah Cara Berbisnis Pedagang Kecil
Nandi, seorang wisatawan asal Cilacap yang sedang bertandang bersama keluarganya, menghampiri gerobak Slamet dengan langkah riang. Setelah memilih pentol dan jenis saus yang disukai, ia langsung mengeluarkan ponsel pintar untuk memindai kode QRIS yang terpajang rapi di bagian depan gerobak. Dalam hitungan detik, transaksi senilai Rp 10.000 berhasil diselesaikan tanpa perlu repot mencari uang pas atau menerima kembalian yang terkadang membuat gerobak kecil terasa semakin sempit. Nandi mengungkapkan kekagumannya terhadap kemajuan teknologi di kawasan wisata Borobudur yang kini telah merambah hingga ke level pedagang kaki lima sekalipun. Baginya, pengalaman pertama berkunjung ke Borobudur meninggalkan kesan mendalam bukan hanya karena keindahan arsitektur candi, tetapi juga karena kemudahan bertransaksi yang ditawarkan oleh para pelaku usaha lokal. Kehadiran QRIS di gerobak-gerobak kecil seperti milik Slamet menjadi bukti nyata bahwa transformasi digital tidak lagi menjadi monopoli pengusaha perkotaan dengan modal besar, melainkan telah menembus batas-batas geografis dan ekonomi hingga ke pelosok desa wisata.
Perjalanan Panjang Mencari Formula Tepat di Tengah Persaingan
Sebelum memutuskan untuk mangkal di lokasi yang sekarang, Slamet telah melewati perjalanan panjang penuh lika-liku dalam dunia wirausaha. Awalnya, ia berjualan mainan keliling ke berbagai sekolah dan hajatan warga seperti pentas jathilan yang masih kerap digelar di desa-desa sekitar Borobudur. Namun seiring waktu, ia menyadari bahwa tren pasar terus bergeser dan mainan bukan lagi komoditas yang menjanjikan pertumbuhan signifikan. Observasinya terhadap pola konsumsi masyarakat mengantarkannya pada keputusan untuk beralih ke pentol, makanan yang tidak pernah kehilangan peminat dari berbagai kalangan usia. Di rumahnya di kawasan Tuksongo, Slamet mulai meracik adonan pentol sendiri, melakukan eksperimen berulang kali hingga menemukan komposisi tepat yang membedakan produknya dari pesaing. Setelah merasa yakin dengan resepnya, ia kembali ke jalanan dengan membawa harapan baru dan cita rasa yang ia yakni mampu menarik pelanggan. Kini, kapasitas produksinya telah mencapai 500 hingga 1.000 butir pentol per hari, angka yang tidak pernah terbayangkan saat pertama kali memulai usaha ini.
Disiplin Keuangan sebagai Kunci Keberlangsungan Usaha Keluarga
Keputusan Slamet untuk mengadopsi pembayaran digital sekitar dua tahun lalu ternyata membawa dampak yang melampaui sekadar kemudahan transaksi. Berawal dari rasa penasarannya menjelajahi media sosial, ia menemukan informasi tentang Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS yang mulai gencar dipromosikan pemerintah sebagai alat pembayaran terpadu. Tanpa pikir panjang, ia mendaftarkan diri sebagai merchant melalui dompet digital yang dimilikinya dan dalam waktu singkat, kode barcode berhasil tercetak dan ditempelkan di gerobak birunya. Keuntungan paling terasa bukan pada peningkatan omzet semata, melainkan pada kemampuannya mengelola keuangan dengan lebih tertib dan terstruktur. Dahulu, uang hasil berjualan sering bercampur aduk dengan pengeluaran sehari-hari sehingga sulit untuk memisahkan mana yang menjadi modal, keuntungan, dan biaya operasional. Kini, sebagian besar pendapatannya tersimpan aman di dompet digital, lalu dipindahkan secara berkala ke rekening Bank Rakyat Indonesia ketika jumlahnya sudah cukup signifikan. Bagi Slamet, setiap bunyi notifikasi transaksi yang terdengar dari ponselnya bukan sekadar pertanda dagangan terjual, melainkan juga representasi langkah kecil menuju kestabilan finansial keluarganya di tengah ketidakpastian ekonomi yang terus menghadang.
![]() |

