![]() |
| Illustration: kompas.com |
Jatuhnya Keir Starmer dan Akhir Era Kepemimpinan Partai Buruh
Keir Starmer akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya dari posisi pemimpin Partai Buruh dalam sebuah langkah yang telah lama diperkirakan oleh berbagai pengamat politik di Inggris. Keputusan ini bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba, melainkan puncak dari serangkaian tekanan politik yang terus menggerogoti posisinya sejak beberapa bulan terakhir. Elektabilitas Partai Buruh yang terus merosot tajam menjadi salah satu pemicu utama, ditambah dengan berbagai kontroversi kebijakan yang diambilnya selama menjabat. Salah satu titik balik yang cukup signifikan adalah keputusannya menunjuk Peter Mandelson sebagai Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat pada tahun sebelumnya, sebuah langkah yang menuai kritik tajam dari berbagai kalangan, termasuk dari dalam partainya sendiri. Para anggota parlemen dari Partai Buruh mulai menyuarakan kekhawatiran mereka, dan desakan untuk mundur semakin keras setelah hasil pemilihan parlemen Wales dan Skotlandia, serta pemilihan dewan lokal di berbagai wilayah Inggris pada Mei lalu menunjukkan hasil yang sangat mengecewakan. Starmer sejatinya telah berusaha keras untuk mempertahankan posisinya, mencoba berbagai strategi untuk membalikkan keadaan dan membuktikan bahwa ia masih mampu memimpin partai melewati masa-masa sulit ini. Namun, tekanan yang datang bertubi-tubi akhirnya membuat posisinya semakin tidak bertahan, dan pengunduran diri menjadi jalan satu-satunya yang tersisa baginya untuk menjaga martabat politik yang tersisa.
Kebangkitan Andy Burnham dan Persaingan Internal Partai Buruh
Pengunduran diri Wes Streeting dari jabatan Menteri Kesehatan menjadi domino pertama yang runtuh dalam kabinet Starmer, disusul oleh beberapa menteri junior lainnya yang mengikuti jejaknya. Situasi ini semakin diperparah dengan keputusan seorang anggota parlemen dari Partai Buruh yang melepaskan kursinya untuk daerah pemilihan Makerfield, membuka jalan bagi Andy Burnham untuk kembali ke panggung politik nasional. Burnham, yang saat itu masih menjabat sebagai Wali Kota Greater Manchester, telah lama menyimpan ambisi untuk kembali ke Westminster dan menantang posisi puncak Partai Buruh. Sebelumnya, Starmer sempat berhasil menghalangi Burnham untuk maju dalam pemilihan sela pada Februari, namun setelah puluhan anggota parlemen menuntutnya mundur pascakekalahan pemilu, ia tidak lagi memiliki kewenangan politik yang cukup untuk mengulang langkah serupa. Kemenangan telak Burnham di Makerfield pada pekan lalu, di mana dia berhasil memperbesar perolehan suara Partai Buruh atas Reform UK, semakin memperkuat daya tariknya di mata para anggota parlemen dan kader partai. Banyak yang mulai melihat Burnham sebagai sosok yang mampu membawa Partai Buruh keluar dari krisis kepemimpinan ini. Wes Streeting, yang sempat dianggap sebagai pesaing potensial, justru menyatakan tidak akan ikut bertarung dan langsung memberikan dukungannya kepada Burnham beberapa jam setelah pengumuman pengunduran diri Starmer, sebuah langkah yang semakin memperkuat posisi Burnham sebagai kandidat tunggal yang paling berpotensi memimpin partai.
Mekanisme Pergantian Kekuasaan dan Sistem Ketatanegaraan Inggris
Berdasarkan aturan internal Partai Buruh, seorang kandidat harus mendapatkan dukungan dari minimal 81 anggota parlemen untuk bisa maju dalam kontestasi kepemimpinan. Selain itu, kandidat juga wajib mendapat dukungan dari 32 dari 634 cabang lokal partai, atau tiga organisasi yang berafiliasi dengan partai, termasuk dua serikat pekerja. Jika lebih dari satu kandidat memenuhi ambang batas tersebut, maka akan digelar pemungutan suara di kalangan anggota partai dan pendukung dari serutan pekerja untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin baru. Namun, situasi saat ini menunjukkan bahwa proses pemungutan suara tersebut mungkin tidak akan diperlukan mengingat Burnham telah memastikan dirinya akan maju dan secara luas dianggap memiliki dukungan lebih dari cukup di kalangan anggota parlemen Partai Buruh. Hingga saat ini, belum ada anggota parlemen Partai Buruh lain yang menyatakan akan maju, membuka peluang bagi Burnham untuk menjadi kandidat tanpa saingan. Dalam sistem ketatanegaraan Inggris, perdana menteri memperoleh kekuasaannya dari dukungan mayoritas di House of Commons, sehingga siapa pun yang memenangkan pemilihan pemimpin Partai Buruh akan secara otomatis menjadi perdana menteri tanpa perlu menggelar pemilihan umum. Partai Buruh saat ini menguasai mayoritas kursi yang sangat besar di parlemen, sebuah fakta yang membuat proses transisi kekuasaan ini berjalan relatif cepat dibandingkan dengan skenario koalisi yang sering terjadi di negara-negara lain.
Tantangan Transisi dan Masa Depan Politik Inggris
Sebagai perdana menteri yang akan lengser, Starmer masih memiliki beberapa tanggung jawab penting yang harus dijalankan hingga penggantinya resmi ditetapkan. Salah satunya adalah kehadirannya pada pertemuan puncak para pemimpin NATO yang dijadwalkan pada 7 Juli, sebuah forum internasional penting yang membutuhkan representasi Inggris di level tertinggi. Pada saat yang sama, Starmer sebelumnya juga berjanji akan mengumumkan rencana belanja militer yang justru menjadi salah satu pemicu pengunduran diri John Healey dari jabatan Menteri Pertahanan awal bulan ini. Masih belum jelas apakah rencana tersebut bisa tetap berjalan, mengingat anggarannya harus diperoleh dengan menata ulang anggaran sejumlah departemen pemerintahan yang tentunya membutuhkan proses yang panjang dan rumit. Sebagai dampak lain dari pengumuman pengunduran diri Starmer, pertemuan puncak Inggris-Uni Eropa yang sebelumnya dijadwalkan pada 22 Juli kini ditunda hingga waktu yang belum ditentukan. Burnham sendiri sudah mulai diminta oleh sejumlah anggota parlemen Partai Buruh untuk memaparkan secara lebih rinci rencana kepemimpinannya, mengingat kemungkinan kontestasi yang berjalan begitu singkat ini. Jika Burnham dicalonkan tanpa ada kandidat lain yang ikut bersaing, maka secara otomatis ia akan menjadi pemimpin Partai Buruh tanpa harus melalui kontestasi, membuka kemungkinan untuk langsung melangkah ke 10 Downing Street paling cepat pertengahan Juli, kurang dari satu bulan sejak dia kembali menempati kursinya di Parlemen. Transisi kekuasaan yang cepat ini tentu membawa konsekuensi tersendiri bagi stabilitas politik Inggris di tengah berbagai tantangan domestik dan internasional yang harus dihadapi oleh pemerintahan baru nantinya.
