![]() |
| Illustration: larazon.es |
Dari Jalanan Getafe ke Panggung Piala Dunia: Kisah Muda Achraf Hakimi yang Penuh Pengorbanan
Achraf Hakimi lahir pada tanggal 4 November 1998 di Getafe, sebuah kota kecil di selatan Madrid, Spanyol. Sebagai putra dari imigran Maroko, kehidupan keluarganya jauh dari kemewahan. Ayahnya, Hassan Hakimi, bekerja sebagai pedagang keliling yang menjajakan buah‑buahan dan pakaian di pasar Majadahonda, sementara ibunya, Saida Mouh, mencari nafkah sebagai pembersih rumah tangga. Kondisi ekonomi yang ketat membuat Hakimi sejak dini memahami arti perjuangan hidup. “Kami hidup dalam kemiskinan,” kenang Hakimi dalam berbagai wawancara, “karena kami bukan lahir di Spanyol, orang melihat kami berbeda dan memberi kami lebih sedikit peluang.”
Meskipun tumbuh dalam lingkungan yang penuh keterbatasan, Hakimi kecil sudah bermimpi untuk menendang bola di lapangan profesional. Mimpi itu tidak hanya menjadi ambisi pribadi, melainkan juga bentuk penghormatan kepada orang tuanya yang berkorban tanpa henti. Setiap hari sepulang sekolah, ia membantu ayahnya berjualan, lalu segera meluangkan waktu di lapangan bola setempat. “Bermain sepak bola adalah impian saya, dan bagi mereka itu adalah pengorbanan besar,” ungkapnya dalam sebuah wawancara dengan El Mundo pada tahun 2019.
Dukungan yang diberikan orang tuanya memungkinkan Hakimi bergabung dengan akademi Real Madrid pada usia yang sangat muda, tujuh tahun. Di sana, ia mulai dibentuk menjadi pemain profesional. Awalnya, ia menjalani laga demi laga di tingkat junior, hingga pada 20 Agustus 2016 ia mencatatkan debut di Segunda División B dalam sebuah laga persahabatan melawan PSG. Meskipun saat itu usianya masih muda, gaya bermainnya yang energik dan kuat langsung menarik perhatian pemandu bakat. Perjalanan kariernya pun segera menukik naik, dari musim bersama tim cadangan Real Madrid hingga masa peminjaman di Inter Milan, sebelum akhirnya direkrut PSG pada 6 Juli 2021.
Setiap tahap dalam perjalanan Hakimi diisi dengan kerja keras, disiplin, dan tekad untuk membuktikan bahwa latar belakangnya bukanlah penghalang. Hal ini menjadi contoh nyata bagi banyak pemain muda dari keluarga imigran yang melihat dirinya sebagai simbol bahwa impian bisa diwujudkan melalui kerja keras, bahkan ketika segala rintangan terasa mustahil.
Hakimi Memilih Maroko: Pilihan Identitas yang Mengubah Karier dan Bangsa
Ketika banyak orang berharap Achraf Hakimi akan mengenakan seragam La Roja, pemain berbakat ini justru membuat keputusan yang menghebohkan: ia memilih untuk bermain bagi Maroko. Keputusan ini tidak lepas dari perenungan mendalam tentang identitasnya. Meskipun lahir di Madrid dan memiliki paspor Spanyol, Hakimi merasa lebih dekat dengan akar Marokonya. “Saya pernah mencoba bergabung dengan tim nasional Spanyol,” kata dia dalam sebuah wawancara dengan Bein Sports, “tapi saya tidak merasa nyaman di sana. Saya merasa Maroko adalah negara yang sebenarnya saya kenal, negara tempat orang tua saya tumbuh.”
Pilihan ini mirrors kisah Iñaki Williams, pemain Basque yang juga lebih memilih untuk mewakili Nigeria daripada Spanyol, meskipun ia lahir dan besar di negara Basque. Keduanya menunjukkan bahwa sepak bola bukan hanya tentang bakat, tetapi juga tentang ikatan budaya dan keluarga. Bagi Hakimi, bermain untuk Maroko adalah cara untuk menghormati perjuangan orang tuanya yang berimigrasi ke Spanyol demi masa depan yang lebih baik. “Yang terpenting bagi saya adalah tetap setia pada akar saya,” ia menambahkan.
Hasilnya, Hakimi langsung menjadi pilar utama Tim Singa Atlas. Penampilannya di Piala Afrika 2025, di mana Maroko menjuarai turnamen tersebut melalui keputusan kontroversial, membuatnya dikenal sebagai salah satu bek terbaik di dunia. “Hakimi membawa kecepatan, kekuatan, dan visi yang luar biasa,” puji pelatih Luis Enrique setelah melihat performa Hakimi di Ligue 1. Keputusan untuk beralih ke Maroko telah membuka jalan baru dalam kariernya, membawanya ke panggung global dan menjadikannya simbol kebanggaan bagi komunitas imigran di seluruh dunia.
Mengangkat Masalah: Kontroversi yang Mengikuti Karier Hakimi di Puncak
Di balik kesuksesan gemilang, Achraf Hakimi juga menghadapi beban berat berupa tuduhan pidana. Pada Februari 2023, seorang wanita melayangkan gugatan yang menuduhnya melakukan pemerkosaan. Kasus ini mengundang perhatian media internasional dan menciptakan keretakan dalam citra publik Hakimi. Sidang pengadilan yang berlangsung di Versailles akhirnya memutuskan bahwa Hakimi harus menghadapi tuduhan tersebut, meskipun ia berulang kali menyangkal segala perbuatan yang dituduhkan.
Hakimi membantah semua tuduhan dengan tegas dan menyatakan bahwa proses hukum ini adalah bagian dari upaya untuk merusak reputasinya. Dalam sebuah konferensi pers sebelum Piala Dunia 2026, ia menegaskan kembali komitmennya untuk fokus pada permainan dan membiarkan keadilan berjalan. “Saya telah bekerja sangat keras untuk mencapai titik ini, dan saya tidak akan membiarkan tuduhan yang tidak berdasar menghancurkan apa yang telah saya capai,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Berita ini tentu saja mengagetkan penonton yang sudah menantikan aksi Hakimi di panggung terbesar sepak bola. Namun, kontroversi ini juga membuka diskusi lebih luas tentang bagaimana atlet diperlakukan di era media yang serba cepat. Banyak pihak berpendapat bahwa meskipun seseorang mungkin tidak bersalah secara hukum, tuduhan seperti itu dapat berdampak jangka panjang terhadap karier dan psikologi pemain. Maroko, yang mengandalkan Hakimi sebagai bek sayap andalan, harus berjuang mencari cara untuk tetap solid di tengah sorotan yang semakin intens.
Pementasan di Piala Dunia 2026: Harapan, Tekanan, dan Pengaruh Terhadap Bangsa Maroko
Saat piala dunia 2026 mendekat, semua mata tertuju pada Achraf Hakimi dan perannya sebagai pilar pertahanan Maroko. Pemain berusia 27 tahun ini dinobatkan sebagai salah satu bek terbaik turnamen, berkat kombinasi kecepatan, kekuatan, dan kemampuan membaca permainan yang luar biasa. Pelatih Walid Regragui telah memasang kepercayaan penuh pada Hakimi, memberinya kebebasan untuk berkontribusi baik dalam bertahan maupun menyerang. “Hakimi adalah pemain yang tidak pernah kenal lelah di sayap, selalu siap memberikan umpan silang yang mematikan,” kata sang pelatih dalam konferensi pers.
Bagi pendukung Maroko di seluruh dunia, penampilan Hakimi membawa harapan untuk mengulangi kejayaan Piala Dunia 2018. Di samping itu, cerita perjalanannya—from pemain jalanan di Getafe hingga bintang dunia—merupakan inspirasi bagi banyak pemuda dari latar belakang imigran. “Dia adalah bukti hidup bahwa asal-usul kita tidak menentukan takdir kita,” kata seorang pengamat sepak bola dari al‑Jazeera. Tekanan yang dialami Hakimi bukan hanya berasal dari harapan fans, melainkan juga dari beban untuk membuktikan dirinya kepada dunia bahwa ia layak menjadi ikon baru sepak bola Maroko.
Di luar lapangan, Hakimi terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, mendukung pendidikan dan pemberdayaan komunitas imigran di Eropa. Aktivitas ini semakin memperkuat citranya sebagai panutan yang tidak hanya sukses secara profesional, tetapi juga peduli terhadap isu-isu sosial. “Dia menggunakan platformsnya untuk mengangkat suara mereka yang tidak punya suara,” puji seorang jurnalis olahraga ternama. Bagi Maroko, kesuksesan Hakimi di Piala Dunia 2026 bukan hanya tentang gol atau assist, tetapi juga tentang bagaimana cerita satu orang dapat menyatukan dan menginspirasi sebuah bangsa.
