Rumah Peninggalan Zaman Dulu di Sumedang Masih Memikat dengan Keunikannya - xwijaya

Tidak menemukan artikel? cari disini



Rumah Peninggalan Zaman Dulu di Sumedang Masih Memikat dengan Keunikannya

Rumah Peninggalan Zaman Dulu di Sumedang Masih Memikat dengan Keunikannya
Foto Ilustrasi sumber: dunia-naeta.blogspot.com

Rumah Asri di Dusun Hambawang


Rumah peninggalan zaman dulu kerap memiliki kesan berbeda dibandingkan dengan rumah model kekinian. Terlebih didukung faktor lingkungan di sekitarnya. Rumah 'jadul' semacam itu masih banyak ditemui di Kabupaten Sumedang. Seperti rumah berusia ratusan tahun milik Emah (84) di Dusun Hambawang, Desa Padaasih, Kecamatan Conggeang. Rumah model panggung dengan anyaman bambu atau bilik ini tampak begitu asri dengan halamannya yang ditumbuhi rumput hijau serta pohon rambutan yang begitu rindang.


Keunikannya yang Mempesona


Bagian 'golodog' yang diubahnya menjadi teras berkeramik, semakin menambah kesan adem saat dilihat. Ditambah dengan keberadaan kolam ikan yang ada di samping rumah. Rumah Mak Emah terbilang cukup luas dengan memiliki beberapa ruangan di antaranya ruang tamu, ruang tengah, dua ruang kamar tidur, satu ruangan tempat salat dan penambahan ruangan dapur dan toilet. Sembilan puluh persen dari rumah itu masih orisinal. Hanya sedikit yang mengalami perbaikan atau perubahan. Besi-besi penyangga ventilasi udara serta besi-besi di bagian teras rumah peninggalan zaman dulu tampak masih kokoh berdiri dengan desainnya yang khas dan sederhana. Tidak hanya bentuk dan material bangunannya yang masih mempertahankan keorisinalitasannya, bahkan perabotannya pun beberapa di antaranya merupakan peninggalan zaman dulu, seperti kursi dan lemari di ruangan tengah.


Generasi Turun Temurun


Dadi (63), anak kedua dari Mak Emah mengungkapkan, rumah tersebut merupakan rumah peninggalan turun temurun yang telah berusia ratusan tahun atau kini telah ditempati oleh generasi keempat. "Rumah ini sudah ditempati oleh empat generasi, pertama itu ditempati oleh moyang saya yang dipanggil Abah Eyang, kemudian dilanjutkan oleh Uyut saya yaitu Haji Marzuki, kemudian oleh kakek saya yang bernama Sumitra, lalu ditempati oleh kedua orang tua saya yakni Mak Emah dan suaminya yang kini telah meninggal yaitu almarhum Pak Adik," ungkap Dadi.


Keutuhan Rumah yang Diapresiasi


Keluarga Dadi merasa bangga dengan rumah peninggalan tersebut, karena telah menjadi bagian dari sejarah keluarga dan kediaman yang akan dijaga oleh keluarga sampai kapan pun. Meskipun beberapa bagian rumah telah mengalami perubahan seperti di bagian depan dan atap, keutuhan dan keunikannya tetap terjaga. Bahkan, tidak jarang ada pihak yang tertarik untuk membeli rumah tersebut dengan tawaran yang menggiurkan, namun keluarga Dadi tetap memilih untuk mempertahankan rumah tersebut sebagai peninggalan berharga dari generasi ke generasi.

Video Terkait:

Tidak ada komentar