Kura-kura Raksasa Pinta, George yang Kesepian - xwijaya

Tidak menemukan artikel? cari disini



Kura-kura Raksasa Pinta, George yang Kesepian

Kurakura Raksasa Pinta, George yang Kesepian
Illustration: detik.com

Awal Kemunculan George


Pada akhir abad 18 hingga abad 19, saat penjelajahan dunia sedang masif, para pelaut yang kelaparan akan mengeksploitasi hewan-hewan di tempat mereka singgah untuk jadi makanan. Praktik ini menyebabkan banyak populasi hewan menjadi korban, seperti yang terjadi di Kepulauan Galapogos di Samudra Pasifik. Salah satu spesies yang menjadi korban adalah kura-kura raksasa. Hewan khas asal wilayah tersebut yang akhirnya dinyatakan punah pada 2012. Kura-kura yang dijuluki Lonesome George (George yang kesepian) itu berhasil hidup sekitar 100 tahun lamanya.


Penemuan Kembali George


Sempat Dinyatakan Punah di Awal Abad 20Awalnya George disebut telah punah pada awal abad ke-20 hingga akhirnya seorang ilmuwan Hongaria melihatnya di tahun 1971. Ia adalah József Vágvölgyi, yang kala itu tengah mempelajari siput di Pinta. Vágvölgyi akhirnya menceritakan pengamatannya di pelabuhan. Pada musim semi 1972, penjaga Taman Nasional Galapagos membawa George ke Pusat Kura-kura di Santa Cruz, California, Amerika Serikat untuk dilindungi. Dengan penemuan George, pihak Taman Nasional Galapagos berharap ada seekor kura-kura Pinta betina lain yang bisa ditemukan, jadi pasangan George, dan berkembang biak meneruskan spesies. Namun setelah pencarian ekstensif dan analisis genetik di alam ataupun kebun binatang, tidak ada satupun yang berhasil ditemukan. Oleh karena itulah, media Amerika mulai menyebut kura-kura itu sebagai Lonesome George (George yang kesepian).


Kehidupan George


Meski kesepian, kondisi kesehatan George diketahui relatif baik semasa hidupnya. Berbeda dengan kura-kura lain, ia sempat mengalami masalah kelebihan berat badan. Pada akhir 1980-an, kehidupannya dipantau oleh dokter hewan dan ahli gizi secara berkala karena harus melakukan diet. Mendapat perhatian, George tinggal di Pusat Penangkaran dan Pemeliharaan Kura-kura di Puerto Ayora, Pulau Santa Cruz, California, Amerika Serikat. Ia memiliki kandang baru dengan tempat bersarang dan didampingi dua betina. Keduanya adalah kura-kura asal Gunung Api Serigala di utara Isabela yang juga di wilayah kepulauan Galapagos, dan kura-kura Espanola. Meski ditempatkan pada satu kandang, George tetap tidak menghasilkan keturunan. Hingga akhirnya pada Minggu dini hari, 24 Juni 2012, George ditemukan mati di kandangnya sendiri oleh Fausto Llerna, pengasuhnya. Kemungkinan penyebab kematiannya tidak diketahui sampai nekropsi (pembedahan pada hewan mati) selesai.


Informasi Genetik yang Meninggalkan Jejak


Meski telah tiada, kehadiran George meninggalkan beberapa informasi genetik yang menarik. Dikutip dari Animal How Stuff Works, pada penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Ecology and Evolution, para peneliti mengurutkan genom George dan kura-kura raksasa lainnya. Hasilnya menunjukkan kura-kura memiliki lebih banyak salinan gen yang berkontribusi pada umurnya yang panjang, ketahanan sistem kekebalan tubuh, dan penekanan tumbuhnya tumor dibandingkan hewan lain. Hal ini menjawab pertanyaan mengapa beberapa spesies kura-kura bisa hidup lama, bahkan lebih dari 250 tahun. Para ilmuwan juga membandingkan genom kura-kura dengan makhluk lain yang memiliki rentang hidup relatif panjang, termasuk manusia. Pembandingan ini memberikan hasil mengejutkan. Selain penampakannya, ternyata manusia dan kura-kura sebenarnya memiliki banyak gen yang sama. Salah satu alasannya dinilai karena keduanya memiliki nenek moyang yang sama sekitar 300 juta tahun lalu. Lebih mendalam, peneliti menggunakan algoritma komputer untuk memisahkan genom kura-kura dan menggali data secara manual yang berfokus pada 3.000 gen hewan ini. Gen yang difokuskan berkaitan dengan umur panjang, peradangan dan perkembangan penyakit, serta beberapa sifat yang mampu melawan kanker. Ternyata, hasil penelitian memperlihatkan kura-kura memiliki varian gen yang mampu memperbaiki DNA, menekan menyebarnya tumor ganas, hingga varian yang terkait dengan penekanan proses penuaan. Namun, tetap dibutuhkan pemahaman yang lebih baik tentang fungsi-fungsi biokimia ini. Harapannya di masa mendatang, hasilnya bisa membantu para peneliti lain memahami bagaimana penuan dan penyakit ganas bisa berkembang, atau bahkan ditekan penyebarannya pada manusia.


source : detik.com


Tidak ada komentar