Masyarakat Indonesia Masih Permisif terhadap Pelanggaran Hak Cipta - xwijaya

Tidak menemukan artikel? cari disini



Masyarakat Indonesia Masih Permisif terhadap Pelanggaran Hak Cipta

Masyarakat Indonesia Masih Permisif terhadap Pelanggaran Hak Cipta
Illustration: jubi.id

Masyarakat Indonesia Masih Permisisf terhadap Pelanggaran Hak Cipta

Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia atau Ikapi Arys Hilman Nugraha mengimbau masyarakat tidak menoleransi tindakan pelanggaran hak cipta terhadap penerbitan buku. Dia menilai masyarakat Indonesia masih sangat permisif terhadap pelanggaran itu.

“Masyarakat kita sangat permisif terhadap pelanggaran hak cipta. Buku dibajak sesuka hati, digandakan di kampus-kampus, pdf-nya dibagi-bagi atau dijual secara ilegal dengan harga yang lebih murah dibandingkan cilok,” kata Arys dalam keterangan yang dikutip dari instagram resmi Ikapi, Selasa (23/4/2024).

Dia menegaskan buku dan hak cipta tidak dapat dipisahkan. Pada setiap judul buku, didaftarkan atau tidak, terkandung hak cipta milik penulis atau kreatornya.

“Hak cipta mengandung hak moral dan hak ekonomi para kreator. Hak ini serta merta hadir sejak buku terbit, dan hukum Indonesia secara otomatis melindunginya, tak perlu pencatatan terlebih dahulu,” ujarnya.

Minimnya Perhatian terhadap Perlindungan Hak Cipta

Arys juga menyoroti minimnya perhatian pemangku kepentingan, dan para penyedia platform lokapasar (marketplace) terhadap perlindungan hak cipta. Mereka tidak menyadari telah menjual buku ilegal.

“Buku hanya dihargai sebagai barang cetakan, terdiri dari kertas, dan tinta. Isinya tidak punya nilai ekonomi [sehingga] diasumsikan harus gratis. Jika tidak, penulis atau penerbit dituduh tidak kreatif mengembangkan bisnis model baru,” katanya.

Dia melanjutkan industri buku setiap tahun menyumbang Rp69 triliun produk domestik bruto Indonesia. Melalui buku, masyarakat juga dapat mengenal lebih banyak film, animasi, musik, dan produk industri kreatif lain.

“Sayangnya penghargaan terhadap hak cipta amat rendah di negeri kita. Jadi, sulit berharap perbukuan kita dapat tumbuh sehat, dan turut berkontribusi dalam arena industri kreatif,” ujar Arys. (*)


source : jubi.id

Tidak ada komentar