![]() |
| Illustration: kompas.com |
Jejak Awal Henry Pribadi dan Napan Group
Henry Setiawan Pribadi, atau dikenal sebagai Tionghoa Liem Oen Hauw, lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada tahun 1948. Bersama saudara-saudaranya, Andry Pribadi dan Wilson Pribadi, ia mendirikan Napan Group pada bulan Maret 1972 dari usaha dagang keluarga. Napan Group kemudian berkembang pesat pada era 1980-an hingga 1990-an dan menjadi salah satu konglomerasi besar di Indonesia. Grup ini melakukan diversifikasi ke berbagai sektor strategis, seperti manufaktur, petrokimia, perkebunan, properti, perbankan, telekomunikasi, dan media. Pada puncak kejayaannya, Napan Group memiliki puluhan anak usaha dan pendapatannya melampaui Rp 1 triliun pada tahun 1996.
Dampak Krisis dan Restrukturisasi Bisnis
Krisis moneter 1997–1998 menjadi titik balik besar bagi Napan Group yang mengubah arah perusahaan tersebut. Henry Pribadi dan perusahaannya terlibat dalam proses restrukturisasi yang melibatkan pelepasan aset dan negosiasi panjang. Meskipun mengalami penurunan skala usaha dibanding masa keemasannya, Napan Group berhasil bertahan. Beberapa unit bisnis terkait dengan Napan Group, seperti PT Argha Karya Prima Industry di sektor kemasan plastik, PT Lumbung Nasional Flour Mill di industri terigu, dan PT Sumatera Prima Fiberboard di sektor papan kayu, masih beroperasi hingga saat ini.
Keluarga dan Estimasi Kekayaan
Dalam kehidupan keluarga, Henry Pribadi memiliki anak, salah satunya adalah Reza Pribadi, yang aktif di dunia usaha dan terlibat dalam berbagai perusahaan swasta, termasuk sektor investasi dan pertambangan. Meskipun tidak lagi berada di masa keemasannya seperti pada era 1990-an, Henry Pribadi masih diakui sebagai salah satu pengusaha papan atas di Indonesia. Estimasi kekayaannya pada tahun 2019 mencapai sekitar 515 juta dollar AS atau setara dengan Rp 7–8 triliun, berdasarkan kepemilikan saham, aset properti, dan investasi keluarga.
