Iran memutuskan mengurangi produksi minyak mentah setelah blokade angkatan laut Amerika Serikat di Selat Hormuz menurunkan ekspor minyak negara itu secara drastis dalam beberapa pekan terakhir. Kebijakan ini diambil karena fasilitas penyimpanan minyak Tehran semakin mendekati kapasitas penuh akibat terbatasnya ruang gerak perdagangan energi di salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Seorang pejabat senior menegaskan pemangkasan produksi merupakan langkah antisipasi sebelum ruang penyimpanan habis total. Menurutnya, pengurangan ini dapat memengaruhi hingga 30 % cadangan minyak Iran, meski belum diungkapkan berapa volume yang sudah dipotong.
Blokade AS menahan puluhan juta barel minyak Iran di laut, menghambat kemampuan Tehran menjual minyak ke pasar global. Alih-alih menunggu semua tangki terisi, pemerintah memilih menurunkan produksi agar tidak memaksa penutupan sumur secara mendadak—langkah yang dapat merusak ladang minyak dalam jangka panjang. Tekanan stabil diperlukan agar cadangan tetap dapat diproduksi secara optimal; kesalahan dalam menghentikan produksi akan membuat pemulihan lebih sulit dan mahal.
Iran meyakini memiliki keahlian teknis untuk menurunkan produksi tanpa merusak sumur secara permanen. Insinyur‑insinyurnya telah mempelajari cara menonaktifkan sumur dengan aman dan mengaktifkannya kembali dalam waktu singkat, berkat pengalaman menghadapi sanksi, perang, dan gangguan ekspor selama beberapa dekade. "Kami memiliki cukup keahlian dan pengalaman, kami tidak khawatir," ujar Hamid Hosseini, juru bicara Asosiasi Eksportir Minyak, Gas, dan Produk Petrokimia Iran, dikutip dari Fortune pada 2 Mei 2026.
Pengetahuan ini pertama kali diasah pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump, ketika AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 dan memberlakukan sanksi keras. Saat itu Iran terpaksa memangkas produksi, namun berhasil meningkatkan kembali outputnya dalam beberapa tahun berikutnya.
Strategi lama Iran—menyembunyikan sebagian ekspor lewat penjualan diam‑diam ke China—kini semakin sulit diterapkan karena tekanan berkelanjutan di Selat Hormuz. Pengurangan produksi yang kini diambil merupakan upaya cepat untuk menghindari krisis penyimpanan sekaligus menjaga integritas sumur minyak nasional.