Gaza – Di tengah puing‑puing hasil serangan udara Israel, warga Gaza kini harus berjuang melawan ancaman yang tak kalah mematikan: serangan hama. Tikus, cerpelai, dan berbagai serangga lain menyusup ke kamp‑kamp pengungsi, menularkan penyakit dan menambah beban hidup yang sudah sangat berat.
Sanitasi yang hancur total memaksa ribuan keluarga tinggal di antara tumpukan sampah, limbah cair, dan kepadatan pengungsi yang ekstrem. Malam hari, banyak orang terjaga demi melindungi anak‑anak mereka dari gigitan hewan liar yang masuk ke dalam tenda.
"Jika kami tidur, mereka menggigit," keluh seorang penduduk yang tinggal di dekat tempat pembuangan sampah, dikutip BBC pada Sabtu (2/5/2026). Samah al‑Daabla, ibu empat anak di Gaza City, menceritakan bagaimana putrinya yang berusia empat tahun, Mayaseen, digigit cerpelai saat tidur. Anak itu harus dilarikan ke rumah sakit, menerima suntikan tetanus, namun harus menahan demam dan muntah selama beberapa hari sebelum pulih di tenda keluarga.
Di banyak kamp pengungsian, laporan serangan hama terus meningkat. Video‑video yang beredar di media sosial memperlihatkan tikus dan serangga lainnya berlarian bebas di antara tenda‑tenda, bahkan menyerang bayi baru lahir, lansia, dan orang sakit. Seorang nenek yang menderita komplikasi diabetes mengaku kehilangan sebagian jari kakinya akibat gigitan hama.
Menurut badan kemanusiaan PBB, sekitar 1,45 juta orang kini tinggal di lokasi pengungsian, dengan 80 % di antaranya melaporkan masalah hama. Kerusakan pada sistem sanitasi, jaringan pipa air, dan fasilitas pengolahan limbah akibat perang yang telah berlangsung lebih dari enam bulan memperparah situasi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kondisi ini sebagai "konsekuensi yang dapat diprediksi dari runtuhnya lingkungan hidup", sementara UNICEF menilai diperlukan operasi besar‑besaran untuk mengatasi krisis sampah, limbah, dan kesehatan. Upaya pengendalian hama telah dilakukan, termasuk pengiriman perangkap tikus dan pestisida, namun bantuan tersebut belum cukup mengendalikan ledakan populasi hama menjelang musim panas.
Warga kini hidup dalam kondisi serba terbatas, menghadapi risiko penyakit kulit, infeksi, hingga gangguan pernapasan yang terus meningkat. Seorang ayah enam anak di Khan Younis menuturkan, "Tidak ada kehidupan di sini," menggambarkan kerasnya realitas di tengah perang dan krisis kemanusiaan yang belum berakhir.