Dibalik Rumput Hijau: Mengapa Kita Sering Lupa Kalau Pemain Bola Itu Manusia Biasa?

Dibalik Rumput Hijau Mengapa Kita Sering Lupa Kalau Pemain Bola Itu Manusia Biasa
Illustration: nbcnews.com

Ekspektasi Brutal di Atas Lapangan Hijau

Dunia sepak bola itu seringkali kejam. Kita duduk manis di depan layar, pegang kopi, terus teriak maki-maki kalau pemain idola kita gagal cetak gol atau salah oper bola. Padahal, kita nggak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu kamar hotel mereka. Nah, baru-baru ini ada berita yang bikin nyesek tentang Cody Gakpo. Dia harus kehilangan calon buah hatinya tepat saat turnamen besar sedang berlangsung. Bayangkan, lu lagi di puncak karier, semua mata tertuju ke lu, terus ada kabar duka yang hancurin hati sampai ke akar-akarnya. Gila sih. Gue kalau jadi dia, mungkin udah angkat kaki dan pulang kampung, bodo amat sama kontrak atau gengsi negara. Tapi dia? Dia tetap berdiri tegak. Ini bukan soal sepak bola lagi, ini soal mental manusia yang dipaksa tetap waras di tengah badai.

Gakpo itu bukan robot. Dia cuma laki-laki yang lagi berduka, tapi dunianya nuntut dia buat tetap profesional. Kejam banget, kan?

Dukungan Tim yang Nggak Cuma Formalitas

Lantas, gimana respons timnya? Biasanya kan di dunia profesional, urusan pribadi itu nomor dua. Tapi di sini, Ronald Koeman sama Virgil van Dijk kasih ruang yang bener-bener manusiawi. Mereka nggak maksa Gakpo buat langsung latihan lari pagi. Mereka sadar kalau kehilangan anak itu luka yang nggak bisa diobatin cuma pake obat merah atau kompres es.

Coba bandingin sama lingkungan kerja kantoran biasa. Sering kan kita dengar bos yang bilang, "Sudah, yang lalu biarlah berlalu, fokus kerja lagi besok." Itu kalimat paling nggak empati yang pernah gue denger. Tapi di timnas Belanda, mereka paham kalau "manusia" itu harus diutamain sebelum "atlet".

Gini, bayangin lu lagi duka, terus disuruh meeting buat bahas target penjualan. Hancur kan? Nah, Koeman ngasih Gakpo waktu buat sama keluarga. Itu langkah yang simpel, tapi jarang banget dilakuin perusahaan atau organisasi besar sekarang. Mereka justru sibuk sama target, bukan sama orangnya. Gakpo sendiri milih buat tetap bertahan, dan itu nunjukin kalau dia punya mental yang bukan kaleng-kaleng.

Sepak Bola Cuma Sekadar Hiburan, Hidup Itu Segalanya

Virgil van Dijk bilang sesuatu yang ngena banget. Dia bilang, "Sepak bola itu sekunder." Wah, ini tamparan keras buat kita semua. Sering banget kita debat kusir soal taktik, formasi, sampai gaji pemain yang miliaran, padahal di balik itu semua, mereka cuma manusia yang bisa nangis, bisa kehilangan, dan bisa hancur.

Kenapa kita sering lupa soal ini? Mungkin karena industri ini udah dibungkus sedemikian rupa jadi komoditas. Kita nonton bola buat hiburan, iya. Tapi kadang kita lupa kalau di balik jersey yang mereka pakai, ada keringat, darah, dan air mata yang nyata. Pertanyaannya, kalau besok lu ada di posisi Gakpo, apa bos lu bakal ngomong hal yang sama kayak van Dijk? Atau lu bakal dipaksa masuk kantor biar nggak kena potong gaji?

Mungkin dunia ini butuh lebih banyak pemimpin kayak van Dijk yang berani bilang kalau "hidup" lebih berharga daripada "hasil pertandingan". Lu pernah nggak ngerasa kerjaan lu lebih dihargain daripada kesehatan mental lu sendiri? Pasti pernah. Itulah kenapa berita Gakpo ini terasa personal banget buat banyak orang. Kita semua bisa ngerasain rasa sakitnya.

Mentalitas Pemenang Sebenarnya

Banyak yang nanya, kok bisa dia tetap main? Apa nggak trauma? Gini, kadang orang berduka itu punya cara beda-beda buat menyembuhkan diri. Ada yang milih menyendiri, ada yang milih buat sibuk biar nggak ingat terus sama kesedihannya. Gakpo, dengan segala kedewasaannya, mungkin ngerasa kalau ada di lapangan itu cara dia buat tetap hidup dan nggak tenggelam dalam rasa bersalah atau kesedihan yang mendalam.

Jangan salah sangka, kedewasaan itu bukan berarti dia nggak sedih. Justru itu nunjukin kalau dia bisa mengelola emosi di level yang sangat tinggi. Kebanyakan orang kalau kena musibah bakal hancur lebur, tapi dia malah milih buat tetap bertanggung jawab sama komitmennya. Itu bukan berarti dia nggak sayang sama anaknya, justru itu cara dia buat menghormati hidup.

Sebenarnya, kita semua punya sisi "Gakpo" dalam hidup. Saat kita kehilangan orang tersayang, atau saat dunia runtuh di depan mata, kita tetap harus bangun pagi buat cari makan. Kita tetap harus senyum di depan pelanggan atau atasan padahal hati lagi hancur. Perbedaannya, Gakpo disorot kamera, kita nggak. Itu aja. Tapi esensinya sama. Bahwa manusia itu punya ketangguhan yang seringkali nggak kita sadari sampai hal buruk benar-benar terjadi. Jadi, pas nanti lu liat Gakpo main di lapangan, jangan cuma liat gol atau operannya. Liat gimana dia berjuang ngelawan rasa sakitnya tiap detik. Itu jauh lebih heroik daripada piala apa pun yang bisa dia angkat.

Gue rasa, sepak bola emang cuma permainan. Tapi cerita hidup Gakpo ini, ini adalah tentang gimana kita survive di dunia yang seringkali nggak peduli kalau kita lagi sakit. Hidup itu brutal, kawan. Tapi kalau lu bisa tetap tegak, itu namanya kemenangan sesungguhnya.

source : nbcnews.com