![]() |
| Illustration: bbc.com |
Ketika Hidup Tidak Sesuai Skrip
Dunia sepak bola seringkali membuat kita lupa kalau pemain bintang itu manusia biasa. Kita cuma lihat mereka lari, nendang bola, selebrasi gol, terus pulang ke rumah mewah. Tapi, kenyataannya? Mereka punya masalah yang kadang jauh lebih berat dari kekalahan di final piala dunia. Baru-baru ini, Cody Gakpo, striker Liverpool yang lagi naik daun, ngalamin guncangan batin yang luar biasa. Bayangkan, dia lagi fokus ngebela negaranya, lagi di tengah tekanan kompetisi paling bergengsi, tapi di saat yang sama, dunianya runtuh. Kabar duka kehilangan calon anak laki-laki mereka, Elijah Raphael Gakpo, pas lagi masa kehamilan. Ini bukan drama lapangan hijau. Ini duka nyata. Sakitnya nggak main-main.
Gakpo cuma minta privasi. Itu wajar banget, kan? Siapa yang mau urusan pribadinya jadi komoditas konsumsi publik pas lagi hancur-hancurnya?
![]() |
Analogi Lilin dan Tanda dari Langit
Masalahnya begini, media sering lupa kalau di balik kamera itu ada hati yang lagi berdarah. Noa van der Bij, pasangannya Gakpo, milih buat berbagi sedikit lewat media sosial. Bukan buat cari sensasi, tapi mungkin bagian dari proses penyembuhan mereka. Mereka sempat ke gereja buat nyalain lilin. Lantas, ada cerita yang bikin merinding. Waktu mereka main ke taman bermain gereja, cuma ada satu anak kecil di sana. Namanya Elijah. Bayangin deh, di tengah kepedihan yang mendalam, tiba-tiba ketemu tanda yang rasanya personal banget. Buat mereka, itu bukan kebetulan. Itu sapaan dari Tuhan.
Gini, hidup itu kayak nunggu giliran di antrean panjang. Kadang kita dapet kabar baik, kadang dapet kabar yang bikin lutut lemes. Gakpo nunjukin sisi manusiawinya. Dia nggak pura-pura kuat di sosmed dengan caption motivasi sampah. Dia cuma minta ruang. Cuma minta privasi.
Banyak orang lupa kalau atlet itu punya beban mental yang gede banget. Ditambah musibah kehilangan anak, itu beban berkali lipat. Kita sering menuntut mereka buat tampil sempurna, tapi pas mereka jatuh, kita cuma bisa nonton atau malah julid. Padahal, mereka cuma pengen dianggap manusia. Bukan cuma sekadar aset klub atau mesin pencetak gol.
Mengapa Privasi Begitu Mahal Harganya?
Kenapa ya, orang kalau lagi duka malah diburu wartawan? Kayak ada rasa haus akan penderitaan orang lain. Gakpo jelas banget mintanya: privasi dan ruang. Gampang diucap, susah dilakuin di dunia yang serba digital ini. Netizen senior kayak saya sering liat, hal-hal privat kayak gini malah dijadiin konten buat cari *traffic*. Gak etis banget.
Apakah kita kehilangan empati? Bisa jadi. Kita terlalu sibuk sama *update* skor, sampai lupa kalau di balik jersey timnas itu ada manusia yang baru kehilangan masa depannya. Pertanyaannya, kalau posisi itu dibalik, apa kita sanggup sekuat itu? Tetap profesional di lapangan, tapi hatinya hancur berkeping-keping. Gakpo masih turun di fase grup. Dia masih cetak gol. Itu dedikasi apa malah pelarian? Kita nggak pernah tahu apa yang berkecamuk di pikirannya pas dia natap bola sebelum *kick-off*.
Duka yang Tak Terlihat di Balik Performa
Performa Gakpo di lapangan selama turnamen ini sebenarnya jadi bukti mentalitas yang luar biasa. Dia tetap fokus, tetap nyumbang kontribusi buat timnas Belanda. Tapi kita harus sadar, ada perbedaan besar antara "bermain bagus" dan "merasa baik-baik saja". Seringkali, kerja jadi satu-satunya cara buat melupakan duka sesaat. Kerja jadi distraksi biar nggak makin terpuruk sama pikiran sendiri. Itu manusiawi.
Dunia sepak bola bakal terus berputar. Pertandingan tetap lanjut, stadion bakal tetap penuh, dan orang-orang bakal tetap teriak gol. Tapi buat Gakpo dan Noa, hidup mereka sudah berubah selamanya. Elijah Raphael Gakpo bakal selalu ada di ingatan mereka. Itu fakta. Suka atau tidak, duka adalah bagian dari paket kehidupan yang nggak bisa kita kembalikan ke toko.
Banyak pelajaran dari kasus ini. Pertama, privasi itu hak mendasar, terutama pas lagi *down*. Kedua, jangan gampang menghakimi atlet kalau mereka kelihatan nggak bersemangat. Kita nggak tahu isi tas orang lain, beratnya kayak apa. Semoga Gakpo dan pasangannya dikasih ketabahan. Cuma itu sih, yang bisa kita harapkan sebagai sesama manusia. Kadang, sikap terbaik yang bisa kita kasih ke orang yang lagi berduka adalah diam. Nggak perlu komentar apa-apa. Cukup kasih mereka ruang buat napas. Dunia sudah terlalu berisik, dan kadang, diam itu lebih elegan daripada kata-kata simpati yang basi.
Kalau kita liat fotonya di media sosial, tangan yang saling memegang di atas selimut itu cerita semuanya. Nggak perlu ribuan kata. Duka itu universal. Nggak kenal bintang sepak bola atau rakyat biasa. Semua ngerasain sakit yang sama. Semoga mereka tenang dan bisa melewati masa sulit ini dengan damai. Tanpa gangguan orang luar yang kepo.

