Drama 120 Menit: Mengapa Sepak Bola Suka Sekali Menyiksa Mental Kita di Babak Tambahan?

Drama 120 Menit Mengapa Sepak Bola Suka Sekali Menyiksa Mental Kita di Babak Tambahan
Illustration: nytimes.com

Seni Menyiksa Penonton di Penghujung Laga

Pernah tidak kalian merasa jantung mau copot pas nonton bola? Bukan pas babak pertama, tapi pas waktu sudah menunjukkan menit 90 lebih. Itu momen di mana keringat dingin bercampur sama harapan tipis. Kita bicara soal babak tambahan waktu atau extra time. Ini bukan sekadar durasi tambahan, ini adalah medan tempur mental di mana fisik pemain sudah hancur lebur, tapi adrenalin malah dipaksa naik ke level maksimal. Bayangkan saja, pemain sudah lari kayak kesetanan selama satu setengah jam, lalu wasit bilang, "Masih ada 30 menit lagi, silakan lanjut." Gila, kan?

Itu bukan soal taktik lagi. Itu murni soal siapa yang paling tahan banting. Siapa yang kakinya paling tidak keram duluan.

Membongkar Mesin Penggerak Drama di Lapangan

Sebenarnya, apa sih gunanya extra time ini? Kalau kita lihat dari kacamata teknis, ini cara FIFA memastikan tidak ada hasil seri di fase gugur. Harus ada pemenang. Titik. Gak boleh ada istilah "ya sudah, bagi poin saja". Dunia olahraga lain punya cara sendiri, tapi sepak bola punya cara yang paling bikin napas tersengal-sengal. 30 menit itu dibagi dua babak, masing-masing 15 menit. Kalau masih seri juga? Ya sudah, kita semua harus duduk manis menyaksikan adu penalti yang penuh keberuntungan dan tekanan batin.

Gini, bayangkan perbandingannya. Di NBA, perpanjangan waktu cuma 5 menit. Di NFL, cuma 10 menit. Tapi sepak bola? 30 menit. Itu waktu yang sangat lama buat sebuah kesalahan kecil bisa menghancurkan impian satu negara. Pemain dikasih tambahan satu jatah pergantian pemain. Jadi total bisa ganti enam orang. Masalahnya, pemain yang masih segar itu masuk ke lapangan di saat yang lain sudah kayak zombie. Efeknya apa? Ya, tempo permainan jadi tidak menentu. Kadang meledak, kadang lamban karena dua tim sama-sama takut kebobolan.

Kenapa "Golden Goal" Itu Ide yang Buruk Banget?

Dulu, FIFA pernah sok ide. Mereka bikin aturan "golden goal". Siapa yang cetak gol duluan di extra time, langsung menang. Game over. Kedengarannya seru, kan? Kayak sistem *sudden death* di game kompetitif. Tapi kenyataannya? Bencana. Pemain bukannya jadi berani serang, mereka malah ketakutan setengah mati. Satu kesalahan kecil, satu operan meleset, dan selesai sudah turnamen mereka. Gol yang tercipta minim sekali. Akhirnya, aturan itu dibuang ke tempat sampah sejarah. Balik lagi ke pakem lama yang lebih masuk akal.

Nah, sekarang kita lihat dampaknya. Extra time itu bagaikan lotere. Terkadang kita disuguhi tontonan magis kayak final Qatar 2022. Messi cetak gol, Mbappe balas, Kolo Muani hampir bikin gol kemenangan tapi ditepis Martinez. Itu puncak hiburan. Tapi, ada kalanya extra time cuma jadi ajang adu keram kaki. Pemain jalan kaki, oper-operan bola di tengah, menunggu peluit adu penalti dibunyikan. Bosan? Jelas. Tapi itulah bumbu sepak bola yang bikin kita nggak bisa berpaling. Kalian pernah ngerasa bosan pas nonton extra time, tapi pas masuk babak penalti langsung berdiri dari kursi? Itulah definisi nyata dari *roller coaster* emosi.

Realita Pahit di Balik Statistik 120 Menit

Kalau kita bedah datanya, sebenarnya extra time itu nggak selalu berakhir dengan gol. Cuma sedikit yang benar-benar punya greget. Dari sekian banyak laga di fase gugur, banyak yang berakhir adu penalti juga. Tapi kenapa kita tetap suka? Karena ketegangan itu nyata. Saat pemain sudah di menit 115, fokus mereka sudah buyar. Teknik tendangan sudah nggak akurat lagi. Di sinilah sisi manusiawi dari olahraga ini kelihatan. Pemain bukan robot yang bisa diatur kecepatannya. Mereka cuma manusia yang kehabisan oksigen di lapangan hijau.

Kalian lihat saja rekor hat-trick Kylian Mbappe di final atau bagaimana Geoff Hurst menyelamatkan Inggris di masa lalu. Itu momen-momen yang lahir dari kelelahan hebat. Jadi, buat saya, extra time itu bukan cuma soal aturan. Ini tentang menguji batas keberanian. Suka atau tidak, ini adalah bagian paling krusial dari turnamen besar. Tanpa 30 menit tambahan itu, kita nggak akan punya cerita-cerita epik yang bakal diceritakan ke anak cucu nanti. Lagipula, siapa sih yang mau laga sepenting Piala Dunia berakhir dengan gampang saja? Kita butuh drama, kita butuh air mata, dan kita butuh 120 menit perjuangan buat menentukan siapa yang layak bawa pulang piala itu. Sepak bola memang kejam, tapi itulah yang bikin kita nggak berhenti nonton. Masalahnya cuma satu: jantung kita kuat atau tidak buat menanggung beban 30 menit tambahan itu.

source : nytimes.com