![]() |
| Illustration: mk.co.kr |
Drama Kursi Panas dan Kenangan Pahit
Dunia sepak bola itu kejam. Satu hari kamu dipuja sebagai pahlawan, hari berikutnya kamu cuma dianggap sampah yang harus dibuang dari kursi pelatih. Inilah yang lagi dialami Hong Myung-bo sekarang. Bayangin, dia punya skuad yang katanya generasi emas. Ada Son Heung-min yang lariannya kayak kesetanan, Lee Kang-in yang operannya presisi banget, sampai Kim Min-jae yang jagain pertahanan kayak tembok China. Eh, ujung-ujungnya malah rontok di fase grup Piala Dunia 2026. Padahal grupnya dibilang yang paling enteng sepanjang sejarah partisipasi mereka. Gini deh, analoginya kayak kamu punya bahan masakan wagyu A5, tapi malah dimasak jadi gosong total karena salah api. Kan bikin emosi? Lantas, Hong Myung-bo sadar diri dan akhirnya bilang mau mundur di Guadalajara. Fans di sana udah nggak bisa nahan amarah. Mereka ngerasa dikhianati sama ekspektasi yang tinggi banget.
Fans Korea sekarang lagi teriak satu nama: Paulo Bento. Ya, orang yang dulu mereka kritik habis-habisan, sekarang malah dirindukan kayak pacar yang baru putus padahal dulu sering berantem. Hidup emang selucu itu.
Mencari Sosok Bento yang Hilang
Masalahnya begini, sepak bola itu bukan cuma soal menang atau kalah. Ini soal identitas. Bento punya sesuatu yang Hong Myung-bo nggak punya: *build-up play*. Bento itu keras kepala, dia mau anak asuhnya main dari belakang, oper pendek, sabar, dan terstruktur. Fans Korea itu sebenernya suka banget sama gaya main yang rapi kayak gitu. Mereka bosen liat timnas main asal tendang ke depan. Nah, waktu Bento pergi, banyak yang ngerasa timnas kehilangan arah. Sekarang, pas liat timnas main kacau di bawah Hong, orang-orang jadi sadar kalau apa yang dibangun Bento selama empat tahun itu sebenernya investasi yang mahal.
Kabar terbaru bilang kalau Bento lagi nganggur lagi habis selesai tugas di UAE. Media Portugal, Avola, sempet kasih bocoran soal statusnya yang *free agent*. Gak butuh waktu lama buat internet meledak. Istri Bento, Teresa, mendadak jadi sasaran curhat fans Korea. Coba bayangin, ribuan komentar masuk ke media sosialnya. Ada sekitar 4.400 komentar yang isinya minta Bento balik. "Kami kangen *build-up* Bento," kata salah satu fans. Belum lagi jumlah *likes* yang tembus 80 ribuan. Ini bukan cuma soal nostalgia, ini adalah bentuk protes keras netizen ke federasi yang dianggap salah langkah.
Kenapa Kita Begitu Gampang Lupa?
Sebenernya, waktu Piala Dunia 2022 Qatar, banyak banget orang Korea yang nyinyir sama Bento. Pas kalah lawan Ghana 2-3, media sana nulis berita jelek tiap hari. Mereka bilang Bento gak bisa adaptasi, Bento terlalu kaku, Bento ini-itu. Tapi liat apa yang terjadi di laga terakhir lawan Portugal? Dia buktiin kalau strateginya manjur. Kita masuk babak 16 besar. Meski akhirnya dibantai Brasil 1-4, minimal ada martabat di sana. Lantas, kenapa sekarang mereka minta balik? Karena rumput tetangga ternyata nggak lebih hijau, malah lebih kering. Fans baru sadar kalau pelatih yang mereka remehkan ternyata adalah orang yang punya filosofi paling jelas. Apa kita manusia emang harus nunggu kehilangan baru bisa menghargai? Pertanyaan ini terus muncul tiap kali liat kekacauan di kursi kepelatihan timnas. Hong Myung-bo mungkin niatnya baik, tapi di lapangan, dia gak bisa kasih apa yang fans mau. Dia terjebak sama taktik tiga bek yang aneh, yang bikin fans makin kangen sama konsistensi Bento.
Analisis Dingin di Tengah Panasnya Emosi
Gini cara liatnya secara objektif. Sepak bola Korea itu punya penyakit kronis: maunya instan. Mereka pengen timnas juara, pengen main cantik, tapi gak sabar proses. Bento itu orang yang anti-instan. Dia bangun tim dari nol. Dia berantem sama media, dia berantem sama federasi, cuma buat jaga pakem permainannya. Akhirnya? Dia berhasil bawa Korea ke level yang disegani di Qatar. Sekarang, pas dia pergi, federasi malah milih jalan pintas yang salah. Hong Myung-bo itu bukan pelatih jelek, tapi dia ditaruh di tempat yang salah dengan beban yang terlalu berat. Ibarat naruh mesin motor bebek di badan mobil balap. Gak bakal nyambung.
Kekecewaan fans Korea saat ini bukan cuma soal tersingkir di fase grup. Ini soal "apa yang seharusnya bisa mereka capai". Dengan pemain sekelas Son Heung-min yang udah di puncak karier, harusnya prestasi mereka jauh lebih baik. Tapi ya gitu, manajemen timnas yang berantakan bikin potensi emas itu menguap. Bento sekarang jadi simbol "hari-hari yang lebih baik". Apakah dia bakal balik? Belum ada yang tau. Tapi satu hal yang pasti, kalau federasi gak bisa benahi struktur internal, mau pelatih manapun yang dateng, ujung-ujungnya bakal jadi tumbal. Fans Korea udah capek. Mereka gak butuh janji manis, mereka cuma butuh taktik yang jelas dan keberanian buat nunggu proses. Masalahnya, di dunia modern yang serba cepat ini, kesabaran udah jadi barang mewah yang harganya selangit. Jadi, siap-siap aja liat drama selanjutnya di pinggir lapangan. Siapa yang bakal nanggung malu berikutnya? Kita tunggu aja kabar terbaru dari drama Korea yang satu ini, bukan drama yang tayang di Netflix, tapi drama yang beneran bikin tensi naik tiap akhir pekan.
