Javier Aguirre dan Kutukan Perempat Final yang Bikin Emosi

Javier Aguirre dan Kutukan Perempat Final yang Bikin Emosi
Illustration: elpais.com

Seni Membaca Nasib di Lapangan Hijau

Dunia bola itu lucu. Kadang kita ngerasa tim kesayangan sudah di atas angin, eh, pas masuk fase krusial malah mainnya kayak ayam kehilangan kepala. Ini bukan soal teknik lagi, sumpah. Ini soal mental yang digebuk realitas. Lihat Javier Aguirre sekarang. Orang ini bukan anak kemarin sore di dunia sepak bola. Dia sudah makan asam garam, jatuh bangun, sampai lututnya mungkin sudah nggak sekuat dulu kalau diajak main futsal di lapangan semen Jakarta. Tapi lihat apa yang dia bilang soal timnas Meksiko sekarang? Dia bilang timnya lagi "di atas awan" soal motivasi. Nah, masalahnya, motivasi doang apa cukup buat ngelawan kutukan?

Gini, ya. Motivasi itu kayak kopi pagi. Enak, bikin melek, tapi kalau diminum pas lagi maag, ya sakit juga akhirnya.

Menghadapi Ekuador: Bukan Lawan Kaleng-Kaleng

Lantas, kenapa semua orang heboh soal pertandingan lawan Ekuador? Bayangkan saja, ini bukan cuma sekadar oper-operan bola di lapangan. Ini pertarungan hidup mati buat nembus fase yang selama ini cuma jadi mimpi buruk buat Meksiko. Sejak tahun 94 sampai 2018, mereka kayak kesurupan tiap mau masuk babak delapan besar. Selalu mentok. Kayak orang mau gajian tapi ATM-nya malah eror pas lagi di depan mesin. Ekuador itu lawan yang nggak bisa dipandang sebelah mata, bro. Mereka mainnya kayak kesetanan, intensitasnya tinggi, dan punya pemain macam Caicedo yang lari-lariannya bisa bikin bek lawan kena serangan jantung.

Sebenarnya, Aguirre sadar betul ancaman ini. Dia bilang ini bakal jadi laga yang penuh duel fisik. Siapa yang menang di perebutan bola, dia yang pegang kendali. Simpel, kan? Tapi eksekusinya yang bikin keringat dingin. Kalau lu nggak bisa ngadepin tekanan di menit awal, mending pulang aja deh.

Pengalaman Vs. Kutukan Masa Lalu

Aguirre sendiri bukan orang suci. Dia pernah ngerasain pahitnya tersingkir sama Amerika di 2002 dan Argentina di 2010. Dia ngaku salah, dia ngaku pernah blunder. Jujur saja, saya suka gaya dia yang nggak banyak alasan. Dia nggak nyalahin wasit, nggak nyalahin rumput yang kurang tinggi, atau bola yang terlalu bulat. Dia naruh tanggung jawab di pundaknya sendiri. Tapi, pertanyaannya, apakah pelajaran masa lalu itu bisa jadi tameng buat sekarang? Atau justru itu malah jadi beban psikologis yang makin berat pas pemain ngerasa "wah, kita harus menang nih buat nebus dosa pelatih"?

Lihat deh, anak-anak muda di tim Meksiko sekarang. Katanya sih mereka nggak takut apa-apa. "Nggak takut sukses," katanya. Keren sih kedengarannya. Tapi di lapangan, saat skor masih 0-0 dan waktu tinggal sepuluh menit, keberanian itu seringkali menguap berubah jadi kepanikan. Nah, di situlah peran pelatih diuji. Apa dia bisa ngeredam emosi anak buahnya supaya nggak main asal tendang?

Stadion Azteca dan Beban Sejarah

Mari bicara soal suporter. Azteca itu bukan cuma stadion, itu kawah candradimuka. Bayangin ratusan ribu orang teriak-teriak manggil nama pemain. Itu tekanan apa motivasi? Buat pemain yang mentalnya baja, itu bahan bakar. Buat yang mentalnya kerupuk kena kuah bakso, itu bencana. Aguirre ngerasa ini adalah keuntungan, pemain ke-12 katanya. Tapi kenyataannya, main di kandang sendiri saat ekspektasi rakyat lagi tinggi-tingginya itu kayak bawa beban satu ton di punggung. Kalau menang, mereka pahlawan. Kalau kalah? Siap-siap aja dihujat seantero negeri.

Sebenarnya ini masalah klasik. Ekspektasi publik Meksiko itu selalu langit ketujuh, tapi kenyataan di lapangan seringnya cuma sampai di teras rumah. Mereka invicible di fase grup? Bagus. Tapi turnamen sesungguhnya baru mulai sekarang. Fase gugur itu beda aturan main. Sekali lengah, koper langsung siap di pintu keluar. Gini, kalau lu bisa menang lawan tim sekelas Ekuador, baru lu bisa teriak "kami calon juara". Kalau kalah? Ya berarti kutukan itu belum mau pergi.

Sekarang coba liat, apakah Aguirre punya ramuan yang belum pernah dia pake? Dia bilang timnya lagi "komunikasi" sama suporter. Ya semoga aja komunikasinya nyampe ke kaki para pemain. Jangan sampai komunikasinya cuma di bibir doang pas konferensi pers. Karena ujung-ujungnya, bola itu bundar dan cuma bisa diisi sama mereka yang nggak cuma berani mimpi, tapi juga berani berdarah-darah di rumput hijau. Kita liat aja nanti pas peluit panjang bunyi. Siapa yang bakal nangis, siapa yang bakal joget di tengah lapangan. Hidup emang penuh kejutan, apalagi kalau udah ngomongin bola. Suka atau tidak, drama ini bakal tetap berjalan.

source : elpais.com