![]() |
| Illustration: koreaherald.com |
Menunggu Keajaiban di Balik Layar
Nah, coba bayangkan perasaan pemain bola sekelas Son Heung-min sekarang. Dia ini bintang besar, jagoan Tottenham, tapi nasib timnas Koreanya malah kayak gantung di jemuran. Ditiup angin dikit, goyang. Enggak tenang. Jadi gini, Korea Selatan sekarang posisinya lagi ada di peringkat keenam dari dua belas tim yang nangkring di posisi ketiga klasemen grup. Masalahnya, ini baru hitungan sementara. Masih ada banyak tim lain yang belum main partai terakhir mereka. Deg-degan? Jelas. Rasanya kayak nunggu pengumuman hasil ujian tapi kita tahu jawaban kita cuma pas-pasan. Nasib mereka bukan di tangan sendiri lagi. Tragis, kan? Sebenarnya, kondisi ini muncul karena sistem baru Piala Dunia yang bikin pusing. Format 48 tim ini emang bikin turnamen makin gemuk, tapi bagi tim medioker—atau tim yang lagi kurang mujur kayak Korea—ini malah jadi neraka. Kita lihat saja apa yang terjadi. Australia sama Paraguay kemarin main imbang. Hasil itu bikin posisi Korea melorot lagi di tabel peringkat tim posisi ketiga terbaik. Pahit banget. Padahal mereka sudah berjuang mati-matian di lapangan.Efek Domino yang Bikin Geleng Kepala
Masalahnya begini, sepak bola itu bukan cuma soal siapa yang paling jago lari atau siapa yang tendangannya paling keras. Ini soal matematika. Ekuador kemarin malah bikin kejutan, mereka menang tipis 2-1 lawan Jerman. Bayangin, Jerman itu juara 2014, lho! Gara-gara kemenangan Ekuador itu, posisi Korea di klasemen tim posisi ketiga langsung tergeser. Ekuador meroket ke puncak, sementara Korea makin terperosok ke bawah. Ini persis kayak orang antre sembako. Kita sudah berdiri dari subuh, eh, tiba-tiba ada rombongan orang datang dari arah samping, nyerobot masuk, terus posisi kita jadi mundur lagi ke belakang. Kesel nggak sih? Kekacauan di tabel klasemen ini bikin kita semua yang nonton jadi ikutan pusing. Korea sekarang cuma punya tiga poin. Catatannya: satu kali menang dan dua kali kalah. Selisih golnya juga minus satu. Tipis sekali. Kalaupun mereka lolos, itu pun harus nunggu belas kasihan hasil pertandingan grup lain sampai hari Minggu nanti. Benar-benar hidup dalam ketidakpastian. Analoginya gampang, kayak kita lagi nunggu ojek online di tengah hujan badai, aplikasinya cuma muter-muter aja, supirnya nggak dapat, tapi kita nggak punya pilihan lain selain nunggu.Siapa yang Paling Apes di Sini?
Lantas, apakah ini adil? Banyak yang bilang sistem ini memberikan kesempatan buat tim yang tadinya hampir tersingkir. Tapi bagi saya, ini cuma menambah durasi penderitaan. Lihat deh tim-tim lain macam Swedia, Ekuador, Bosnia, sama Paraguay. Mereka semua sudah kantongi empat poin. Korea? Cuma tiga. Cuma Korea sama Skotlandia yang sekarang nasibnya lagi nunggu keajaiban dengan poin segitu. Pernah nggak kalian ada di posisi terjepit gitu? Kerja sudah maksimal, tapi hasil akhir malah ditentukan oleh faktor luar yang sama sekali nggak bisa kita kontrol. Rasanya pasti ingin marah sama keadaan. Pertanyaannya sekarang, apakah Taegeuk Warriors layak melaju ke babak 32 besar? Secara teknis, mereka masih punya napas. Tapi kalau lihat performa dan nasib mereka yang harus menggantungkan harapan pada kekalahan atau hasil imbang tim lain, rasanya tipis sekali. Mungkin ini pelajaran buat mereka, jangan kasih ruang buat keberuntungan di pertandingan grup awal. Kalau sudah begini, ya tinggal terima saja nasib.Realita Pahit di Rumput Hijau
Analisisnya sederhana saja. Di kompetisi level dunia, margin of error itu kecil sekali. Satu operan salah, satu posisi yang meleset sedikit saja, dampaknya bisa bikin kita harus pulang lebih cepat. Korea Selatan jatuh ke posisi keenam ini bukan karena mereka tim kacangan, tapi karena ketatnya persaingan di grup-grup lain yang kita sendiri nggak bisa prediksi. Gini, kalau kita bandingkan dengan turnamen-turnamen dulu, sistem sekarang ini emang lebih berisik, lebih banyak drama, tapi kurang greget buat tim yang punya tradisi kuat. Lihat bagaimana mereka terpaksa merelakan nasibnya ditentukan oleh hasil pertandingan tim lain. Ini bukan posisi yang enak buat pemain sekelas bintang Eropa. Mereka terbiasa menang dengan dominasi, bukan dengan hitung-hitungan selisih gol atau poin fair play. Jadi, kalau nanti Korea benar-benar harus angkat koper, ya jangan kaget. Ini bukan soal mereka nggak punya skill, tapi soal mereka kurang "berjodoh" sama matematika FIFA. Kita lihat saja hari Minggu nanti. Apakah bakal ada keajaiban, atau malah jadi akhir perjalanan yang menyedihkan? Ya namanya juga bola, bundar. Kadang digelindingkan ke gawang lawan, kadang malah masuk ke gawang sendiri karena kesalahan kita sendiri. Suka atau tidak, itulah kenyataannya.source : koreaherald.com
