Ronaldo Ke Toronto: Antara Mimpi Sisa Kejayaan dan Realitas Lapangan yang Makin Terik

Ronaldo Ke Toronto Antara Mimpi Sisa Kejayaan dan Realitas Lapangan yang Makin Terik
Illustration: cbc.ca

Drama Miami dan Kaki Tua Sang Megabintang

Jadi begini, kawan. Dunia sepak bola itu kadang lucu kalau kita lihat dari kacamata orang awam. Bayangkan, puluhan ribu orang rela bayar mahal, harga tiketnya sampai jutaan rupiah cuma buat lihat sekilas sosok Cristiano Ronaldo lari-lari di lapangan Miami yang panasnya minta ampun. Kemarin di Hard Rock Stadium, Portugal main lawan Kolombia. Hasilnya? Skor kacamata alias kosong-kosong. Orang-orang di sana pada pakai baju kuning, teriak-teriak sampai tenggorokan kering, tapi apa yang mereka dapat? Ya cuma operan bola sana-sini yang berakhir buntu. Sebenarnya, Kolombia tampil lebih dominan, hampir saja menang kalau gol di menit tambahan nggak dianulir wasit cuma karena ujung sepatu pemainnya kena garis offside. Tipis banget. Tipis kayak dompet tanggal tua.

Ini soal ekspektasi versus realita. Kita berharap Ronaldo bakal ngamuk, eh malah ketahan bek lawan.

Misi Berat Menuju Toronto

Lantas, sekarang Portugal harus geser ke utara. Destinasinya Toronto. Lawannya siapa? Kroasia. Nah, ini yang bikin menarik. Jangan anggap remeh Kroasia. Mereka itu ibarat kucing yang punya sembilan nyawa. Susah mati. Biarpun sudah kalah sekali di grup, mereka tetap melaju ke babak 32 besar. Portugal sendiri datang dengan status juara grup yang sebenarnya agak terseok-seok kalau mau jujur. Mereka menang sekali, seri dua kali. Enggak mentereng banget lah buat ukuran tim unggulan juara.

Bayangkan saja, perjalanan dari Miami yang panasnya kayak neraka pindah ke Toronto yang suasananya pasti beda banget. Ini bukan cuma soal fisik, tapi soal mental. Roberto Martinez sebagai pelatih bilang mereka nggak peduli lawan siapa, targetnya delapan pertandingan. Tapi kan omongan pelatih itu seringnya cuma buat ngeredam suasana. Realitanya? Mereka di bawah tekanan berat.

Masalahnya begini, Ronaldo bukan lagi anak muda yang bisa lari kencang dari menit pertama sampai peluit akhir. Dia sudah berumur. Kalau Kroasia mainnya rapat, pakai taktik parkir bus atau malah serangan balik cepat, Portugal bisa pusing tujuh keliling. Kan kita tahu, kalau Ronaldo sudah emosi atau frustrasi di lapangan, performanya sering turun drastis. Dia butuh Bruno Fernandes buat buka ruang, tapi kalau ruangnya ditutup rapat, siapa lagi yang bisa diandelin?

Analisis Peta Kekuatan yang Kacau

Coba perhatikan statistik Portugal selama tiga laga grup. Mereka cetak enam gol tapi cuma kebobolan satu. Pertahanan mereka sebenarnya solid, ya kan? Tapi ingat, itu lawan tim-tim yang mungkin levelnya di bawah. Pas lawan Kolombia yang agresif, Diogo Costa sampai harus bikin enam penyelamatan. Enam, kawan! Itu bukan angka main-main. Kalau kiper sampai kerja keras begitu, artinya lini belakang Portugal lagi dalam masalah besar.

Lalu Kroasia gimana? Mereka sudah cetak lima gol dan kebobolan lima juga. Artinya, tim ini tipe yang berani main terbuka. Sikat sana, sikat sini. Ini justru bahaya buat Portugal. Kenapa? Karena Portugal suka main teratur, sementara Kroasia mainnya kadang nggak masuk akal alias chaos. Dalam pertandingan sistem gugur, tim yang mainnya chaos sering bikin kejutan. Apakah kita bakal lihat drama lagi di Toronto nanti? Kemungkinan besarnya iya.

Apa fans di Toronto sudah siap lihat Ronaldo? Tentu saja. Tiket sudah pasti ludes. Tapi apakah mereka bakal puas? Kalau mainnya kayak lawan Kolombia yang minim gol, mungkin yang datang cuma mau lihat muka Ronaldo saja. Bukan lihat taktik sepak bola kelas dunia. Masalahnya, bola itu bundar. Kadang kita lihat bintang besar, eh yang menang malah tim yang kerja samanya lebih kompak.

Judi Nasib di Babak 32 Besar

Sekarang mari kita bicara soal sejarah. Ronaldo sudah cetak gol di enam edisi Piala Dunia. Itu rekor yang gila. Benar-benar nggak masuk akal. Tapi, rekor itu nggak akan ngebantu dia menang lawan Kroasia kalau dia nggak bisa cetak gol di Toronto nanti. Pelatih Portugal bilang mereka nggak peduli jalan menuju juara lewat mana saja. Klasik sekali. Padahal kalau mereka kalah, ya sudah, tamat.

Gini, bayangkan saja nasib Spanyol sudah menunggu di perempat final. Kalau Portugal lolos dari Kroasia, mereka sudah harus mikirin Spanyol. Fokusnya jadi terbagi. Sementara itu, tim kayak Kolombia malah dapat lawan Ghana di Kansas City. Bisa dibilang jalur Portugal ini jauh lebih berliku. Ini namanya ujian sesungguhnya. Kalau mau disebut juara, ya harus bisa libas siapa saja. Kalau cuma bisa menang lawan tim gurem, buat apa jauh-jauh ke Piala Dunia?

Saya pribadi melihat pertandingan di Toronto nanti akan jadi titik balik. Kalau Portugal mainnya masih kayak kemarin, susah. Mereka butuh sesuatu yang beda. Sesuatu yang lebih segar. Mungkin perlu ganti taktik atau minimal lebih kreatif di sepertiga akhir lapangan. Jangan cuma andalkan nama besar di punggung jersey. Jersey itu nggak bisa nendang bola sendiri, kan?

Intinya, babak 32 besar ini bukan lagi ajang cari teman. Ini ajang saling bunuh di lapangan hijau. Siapa yang lengah, dia pulang. Ronaldo mungkin mau ini jadi Piala Dunia terakhirnya dengan manis. Tapi sepak bola nggak kenal kata kasihan. Mau dia GOAT atau bukan, kalau Kroasia bisa kunci pergerakannya, ya sudah, Portugal bakal jadi penonton di babak selanjutnya. Kita tunggu saja nanti di Toronto. Apakah akan ada tangisan Ronaldo lagi, atau justru pesta kemenangan yang dirayakan warga Toronto? Waktu yang bakal jawab.

source : cbc.ca