![]() |
| Illustration: usatoday.com |
Dunia yang Berhenti Berputar di Lapangan Hijau
Kita seringkali terlalu sibuk memuja atlet seolah-olah mereka adalah robot yang tidak punya saraf atau perasaan. Pasang taruhan, teriak di depan televisi, lalu memaki kalau tim jagoan kalah. Gampang banget, kan? Tapi coba bayangkan posisi Cody Gakpo saat ini. Pria ini baru saja kehilangan anak laki-laki yang belum sempat menghirup udara dunia. Bayi Elijah Raphael Gakpo pergi begitu saja saat masih di dalam kandungan. Kabar ini bukan cuma headline berita olahraga yang lewat di timeline Twitter, ini adalah hantaman brutal bagi sisi kemanusiaan yang paling dalam. Bayangkan lagi, dia harus tetap berdiri tegak di tengah sorotan kamera seluruh dunia, di tengah tekanan babak gugur Piala Dunia yang panas, sambil membawa lubang besar di dadanya.
Ini bukan tentang menang atau kalah di lapangan. Ini tentang bagaimana seseorang tetap bisa bernapas di tengah badai duka yang paling gelap.
Menjadi Profesional di Atas Puing Kehilangan
Masalahnya begini, dunia olahraga seringkali memaksa orang untuk membuang perasaan demi tuntutan performa. Gakpo memilih untuk tetap bertahan dengan skuad Belanda. Kenapa? Mungkin dia cari distraksi, mungkin dia butuh rutinitas, atau mungkin dia cuma tidak mau membiarkan duka ini melumpuhkannya total. Ronald Koeman, pelatihnya, bilang kalau Gakpo punya kematangan yang luar biasa. Gila, ya? Di umur 27 tahun, dia harus menunjukkan kedewasaan yang mungkin tidak dimiliki banyak orang seumurannya.
Gini, analoginya seperti orang yang rumahnya baru saja terbakar habis, tapi dia tetap harus berangkat kerja karena kalau tidak, dia bakal kehilangan pegangan hidup. Sepak bola buat Gakpo saat ini mungkin jadi satu-satunya tempat di mana dia bisa merasa sedikit "normal" di tengah dunia yang mendadak terasa asing.
Dukungan yang Terasa Hambar Namun Nyata
Virgil van Dijk bilang sepak bola cuma sekunder. Jelas. Ini memang fakta. Suka atau tidak, kalau sudah bicara nyawa atau kehilangan orang yang dicintai, bola itu cuma balon yang dipompa udara. Lantas, apakah dukungan rekan setim benar-benar bisa menambal hati yang pecah? Mungkin tidak. Tapi setidaknya itu membuat dia tidak merasa sendirian di tengah lapangan hijau yang dingin. Kalian pernah kehilangan seseorang yang sangat berarti? Rasanya dunia ini terasa tidak adil. Semuanya tetap berjalan, suara klakson mobil di Jakarta masih berisik, orang-orang masih tertawa, sementara di dalam hati kalian, rasanya ada sesuatu yang padam. Nah, itulah yang mungkin dirasakan Gakpo sekarang. Dia harus lari, sprint, mencetak gol, padahal di kepalanya cuma ada bayangan Elijah.
Analisis di Balik Ketangguhan yang Dipaksakan
Sebenarnya, banyak dari kita yang tidak sadar kalau atlet itu manusia biasa. Mereka bukan karakter game FIFA yang bisa di-reset. Gakpo memutuskan untuk tidak pulang menemui keluarganya dalam masa sulit ini, dia memilih menetap di kamp latihan. Apa ini bentuk pelarian? Bisa jadi. Tapi, kalau mau jujur, ini adalah bentuk pertahanan diri paling primitif. Saat duniamu runtuh, kamu cenderung memegang erat apa pun yang masih utuh. Bagi Gakpo, skuad Belanda adalah sisa-sisa keteraturan yang bisa dia genggam.
Lantas, apakah dia akan bermain bagus di hari Senin melawan Maroko? Siapa yang tahu. Tapi satu hal yang pasti, kalau dia mencetak gol nanti, itu bukan buat tim, bukan buat suporter, dan bukan buat trofi. Itu untuk Elijah. Dia sedang menjalankan duka dengan cara yang paling sulit: di depan mata miliaran orang. Sebuah beban yang tidak pernah diminta, sebuah luka yang tidak akan pernah benar-benar sembuh meski pertandingan usai nanti. Kita cuma bisa menonton, diam, dan mungkin berhenti sejenak untuk sadar kalau di balik jersey mahal dan gaji besar, ada manusia yang sedang berusaha tidak hancur lebur di depan mata kita semua.
