Perang Iran Bocorkan Kelemahan Militer AS: China, Rusia, dan Korea Utara Dapat Belajar

Perang yang melibatkan Iran telah menjadi laboratorium terbuka bagi rival utama Amerika Serikat—China, Rusia, dan Korea Utara—untuk mengamati secara langsung keunggulan sekaligus keterbatasan militer Washington. Menurut laporan The Wall Street Journal, konflik ini memungkinkan ketiga negara tersebut menyaksikan efektivitas senjata baru AS yang dipadukan dengan kecerdasan buatan, seperti rudal presisi, sekaligus menyadari betapa cepatnya persediaan amunisi strategis seperti Tomahawk dan sistem pertahanan Patriot habis.

Perang Iran Bocorkan Kelemahan Militer AS: China, Rusia, dan Korea Utara Dapat Belajar

Arahan Teknologi China dan Rusia
Banyak perangkat keras militer Iran ternyata merupakan hasil rekayasa balik atau bergantung pada komponen buatan China. Keberhasilan drone murah Iran menembus pangkalan AS di Teluk menjadi data intelijen berharga bagi Beijing, yang dapat menguji efektivitas teknologi China melawan senjata canggih Barat. Pakar dari Universitas Beni Suef, Nadia Helmy, menyebut Iran sebagai "laboratorium hidup" bagi teknologi China. Laksamana Samuel Paparo, komandan Pasukan AS di Pasifik, mengakui bahwa musuh melihat potensi amunisi murah dan berbiaya rendah.

Perang Iran Bocorkan Kelemahan Militer AS: China, Rusia, dan Korea Utara Dapat Belajar

Rusia pula memperoleh wawasan tentang cara senjata AS bersaing dengan drone Iran. Pengalaman ini penting bagi Moskow, baik dalam perang di Ukraina maupun potensi bentrokan dengan NATO. Rusia mencatat kerentanan sistem pertahanan udara AS seperti THAAD dan Patriot terhadap serangan kawanan drone, sesuatu yang dapat diadaptasi untuk konflik di Eropa, kata Nicole Grajewski dari Sciences Po.

Pelajaran Nuklir bagi Korea Utara
Korea Utara, yang menyaksikan konflik ini, juga mengambil pelajaran dari dinamika nuklir dan roket Iran. Gambar unit roket yang diperiksa langsung oleh pemimpin tertinggi Kim Jong Un menandakan upaya Pyongyang mengadopsi teknologi dan taktik baru untuk meningkatkan kemampuan deterrennya.

Secara keseluruhan, perang Iran membuka peluang bagi negara-negara rival AS untuk mengidentifikasi celah pertahanan Washington, memperkuat strategi mereka, dan menyiapkan diri menghadapi kemungkinan konfrontasi di masa depan.